<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425</id><updated>2011-07-08T07:03:54.794-07:00</updated><title type='text'>NALAR BRILLIANT</title><subtitle type='html'>Bagaimana alam bekerja tidak sia-sia: 
Darimana datangnya semua tata-tertib dan keindahan yang kita lihat di dunia? Tidakkah tampak dari gejala-gejala tersebut bahwa ada suatu Diri yang tak tampak, tapi hidup cerdas hadir di segala tempat, yang bersifat tak terbatas dalam ruang
(isaac newton)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-733756166686873565</id><published>2009-12-31T00:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-31T00:16:08.901-08:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Gus Dur</title><content type='html'>Selamat Jalan Gus Dur, terima kasih yang tak terhingga atas pembelajaran yang selama ini engkau ajarkan kepada kami dan bangsa Indonesia yang tercinta ini. semua orang Indonesia kehilanganmu.do-doa kami panjatkan untuk mengiringi perjalan sejatimu menuju singgahsana Sang Khaliq, sesungguhnya kami sadar bahwa engaku dan kami semua adalah milikNya, kapanpun Allah memanggil kita tak akan abai dan pasti siap menghadapNya dengan segala kondisi kita. Gus, banyak sekali pelajaran yang engkau ajarkan kepada kami untuk menjadi bangsa yang besar dan tak kerdil, bangsa yang bermartabat dan bukan 'boneka mainan' asing, bangsa yang mengharagi sesama, bukan yang saling menindas dan mendiskriminasi, meskipun atasanama mayoritas. Kami belajar kepadamu bagaimana bersikap dan memegang teguh keyakinan, tak takut untuk mengkritik dan tak gentar dikritik. ucapmu sangat santun kepada siapapun tanpa memandang bulu, siapaun kami engkau perlakukan sebagai teman baik.Gus, kami betul-betul merasa kehilangan sosokmu yang  sangat &lt;em&gt;ngemong&lt;/em&gt;. Banyak diantara kami yang menipumu, membohongimu, menghianatimu, bahkan melawanmu, tetapi engkau bilang dengan santunmu agar kita belajar dan belajar...terimakasih bapak bangsa, terima kasih mbah yai...terimakasih mahaguru....semoga Allah menempatkanmu disisiNya yang sangat mulia,doa kami dari muridmu, murid kebenaran.mhb&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-733756166686873565?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/733756166686873565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=733756166686873565' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/733756166686873565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/733756166686873565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2009/12/selamat-jalan-gus-dur.html' title='Selamat Jalan Gus Dur'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-417871383133093555</id><published>2009-09-29T00:32:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T00:36:40.114-07:00</updated><title type='text'>Keluarga ASMARA- Assakinah, Al-mawaddah, Wa Al-rahmah</title><content type='html'>Islam menginginkan pasangan suami isteri yang telah atau akan membina suatu rumah tangga melalui akad nikah tersebut bersifat langgeng. Terjalin keharmonisan diantara suami isteri yang saling mengasihi dan menyayangi itu sehingga masing-masing pihak merasa damai dalam rumah tangganya. Ada tiga kunci yang disampaikan Allah SWT. dalam ayat tersebut, dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga yang ideal menurut Islam, yaitu : 1) Sakinah (as-sakinah), 2) Mawadah (al-mawaddah), dan 3) Rahmah (ar-rahmah).&lt;br /&gt;Secara harfiyah (etimologi) sakinah diartikan ketenangan, ketentraman dan kedamaian jiwa. Kata ini dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak enam kali --- dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa sakinah itu didatangkan Allah SWT. ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman. Ali bin Muhammad Al-Jurjani (ahli pembuat kamus ilmiah) mendefinisikan sakinah adalah adanya ketentraman dalam hati pada saat datangnya sesuatu yang tidak terduga, dibarengi satu nur (cahaya) dalam hati yang memberi ketenangan dan ketentraman. Adapun menurut Muhammad Rasyid Ridha bahwa sakinah adalah sikap jiwa yang timbul dari suasana ketenangan dan merupakan lawan dari kegoncangan bathin dan ketakutan.&lt;br /&gt;Ulama tafsir menyatakan bahwa sakinah dalam ayat tersebut adalah suasana damai yang melingkupi rumah tangga --- dimana masing-masing pihak (suami-isteri) --- menjalankan perintah Allah SWT. dengan tekun, saling menghormati, dan saling toleransi. Dari suasana as-sakinah tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan menyayangi (al-mawaddah), sehingga rasa bertanggung jawab kedua belah pihak semakin tinggi.&lt;br /&gt;Sehingga ungkapan Rasulullah SAW. "Baitii jannatii", rumahku adalah surgaku, merupakan ungkapan tepat tentang bangunan rumah tangga/ keluarga ideal. Dimana dalam pembangunannya mesti dilandasi fondasi kokoh berupa Iman, kelengkapan bangunan dengan Islam, dan pengisian ruang kehidupannya dengan Ihsan, tanpa mengurangi kehirauan kepada tuntutan kebutuhan hidup sebagaimana layaknya manusia tak lepas dari hajat keduniaan, baik yang bersifat kebendaan maupun bukan.&lt;br /&gt;keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, merupakan suatu keluarga dambaan bahkan merupakan tujuan dalam suatu perkawinan dan sakinah itu didatangkan Allah SWT. ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman, maka untuk mewujudkan keluarga sakinah harus melalui usaha maksimal --- baik melalui usaha bathiniah (memohon kepada Allah SWT.), maupun berusaha secara lahiriah (berusaha untuk memenuhi ketentuan baik yang datangnya dari Allah SWT. dan Rasul-Nya, maupun peraturan yang dibuat oleh para pemimpin dalam hal ini pemerintah berupa peraturan dan perundang-undangan yang berlaku).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-417871383133093555?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/417871383133093555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=417871383133093555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/417871383133093555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/417871383133093555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2009/09/keluarga-asmara-assakinah-al-mawaddah.html' title='Keluarga ASMARA- Assakinah, Al-mawaddah, Wa Al-rahmah'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-530519800081430992</id><published>2009-01-22T22:52:00.001-08:00</published><updated>2009-01-22T23:12:07.718-08:00</updated><title type='text'>Petikan Pidato Perdana Obama (versi Indonesia)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjlD59DI/AAAAAAAAAC0/iI5Wd2pCxTA/s1600-h/obama_5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294382195450442802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 197px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjlD59DI/AAAAAAAAAC0/iI5Wd2pCxTA/s320/obama_5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjQQQCEI/AAAAAAAAACs/2WwyUF6dbbE/s1600-h/obama_4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294382189865076802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 224px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjQQQCEI/AAAAAAAAACs/2WwyUF6dbbE/s320/obama_4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjZbvR4I/AAAAAAAAACk/vpmw9hvMe1E/s1600-h/obama_3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294382192329181058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjZbvR4I/AAAAAAAAACk/vpmw9hvMe1E/s320/obama_3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjaC0qEI/AAAAAAAAACc/XUpindLjLKY/s1600-h/obama_2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294382192493111362" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjaC0qEI/AAAAAAAAACc/XUpindLjLKY/s320/obama_2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjCqr6tI/AAAAAAAAACU/n8idrnt0V2k/s1600-h/obama_1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294382186217859794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 208px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjCqr6tI/AAAAAAAAACU/n8idrnt0V2k/s320/obama_1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Presiden Amerika Serikat yang ke-44 Barack Obama menyampaikan pidato perdana (Getty Images)&lt;br /&gt;Petikan pidato pelantikan presiden AS ke-44 Barack Obama adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Hari ini saya berdiri di sini, merasa rendah hati karena tanggung jawab yang dihadapi, berterima kasih karena kepercayaan yang Anda berikan. Terimakasih kepada Presiden Bush yang telah berkontribusi buat negara kita, serta murah hatinya dalam kerjasama serah terima pekerjaan.&lt;br /&gt;Ekonomi&lt;br /&gt;Orang khawatir bahwa kemerosotan kondisi Amerika tidak dapat dihindarkan, tantangan sangat realistis dan sangat serius juga tidak mudah diselesaikan. Tetapi kita harus menghadapi tantangan ini.&lt;br /&gt;Hari ini, kita berkumpul di sini adalah untuk memilih harapan bukan kekhawatiran, bersatu bukan perbedaan pendapat, atasi keluhan dan komitmen yang tidak realistis. Amerika Serikat masih negara yang muda, sekarang kita harus mempersatukan kembali semangat solidaritas untuk mendorong warisan pandangan generasi ke generasi.&lt;br /&gt;Kita adalah negara besar, tidak ada jalan pintas. Bagi mereka yang mengejar reputasi, kekayaan dan kenyamanan, ini bukanlah jalan anda. Banyak orang yang tidak dikenal berjuang dan berkorban, memberikan kontribusi dan membangun kesejahteraan prestasi Barat. Kita dapat melihat bahwa pengorbanan setiap individu membentuk prestasi kekayaan nasional, kita masih negara yang paling kuat, pekerja kami masih yang paling kreatif, masih ada permintaan pelayanan,ini tidak terpengaruh.&lt;br /&gt;Tapi era ini mendapat tantangan, kepentingan pandangan jangka pendek tidak cocok, kita harus mengkonsolidasikan kekuatan, kembali membentuk Amerika Serikat.&lt;br /&gt;Melihat-lihat ke sekeliling, menuntut kami untuk merespon dengan cepat dan bertindak dengan berani. Selain pekerjaan baru, infrastruktur, harus juga membangun jembatan-network, dan meningkatkan pembangunan pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan energi bersih, pelatihan guru universitas, ini adalah yang dapat kita lakukan dan akan dilakukan.&lt;br /&gt;Beberapa orang bertanya kita tidak akan ada rencana besar. Apa mereka lupa dengan prestasi negara yang telah ada, mereka tidak memahami Amerika telah berubah. Kami akan mengalokasi dana umum secara baik untuk memulihkan kepercayaan rakyat yang berharga kepada pemerintah. Jangan bertanya lagi apakah pasar adalah kekuatan yang penting, kekuatan pasar mendistribusikan kekayaan sudah berubah menjadi tidak merata, hanya mendukung orang kaya tidak dapat dilanjutkan lagi. Adalah penting setiap kemampuan, harus perhatian kekayaan bersama dan harapan bersamaan kami.&lt;br /&gt;Keamanan&lt;br /&gt;Melalui kekuatan kita melindungi diri sendiri, bukan menggunakan senjata, mesti dengan hati-hati menggunakan senjata, dengan begitu baru dapat menampilkan rendah hati. Dengan mengikuti prinsip ini, kami akan dapat menghadapi tantangan, dan memperkuat kerja sama dan pengertian antar negara, mengakhiri perang di Irak, melindungi keamanan Afganistan. Terhadap orang-orang yang melalui gaya membunuh orang-orang tidak bersalah demi mendorong hidup mereka sendiri, Anda tidak dapat menghancurkan kami, kami akan menghancurkan kalian.&lt;br /&gt;Hubungan luar negeri&lt;br /&gt;Amerika Serikat telah menderita karena perang saudara dan perbedaan etnis, kami tidak dapat menempuh jalan kembali lagi. Amerika ingin berperan di dunia ini. Bagi umat Islam, kita mempunyai kepentingan umum yang sama. Terhadap pemimpin negara, jika mereka hanya melemparkan masalah ke di Barat, orang-orang akan percaya Anda adalah menghancurkan kekuatan bukan membangun kekuatan. Untuk negara-negara miskin, kami akan berdiri di samping Anda. Untuk negara-negara kaya, kami tidak dapat mengabaikan lagi keadaan negara-negara lain, tidak dapat menghamburkan sumber daya lagi.&lt;br /&gt;Perasaan tanggung jawab&lt;br /&gt;Kami membutuhkan sebuah rasa tanggung jawab pada era baru. Setiap penduduk Amerika harus menyadari tanggung jawabnya terhadap negara dan dunia. Mesti meningkatkan rasa tanggung jawab ini, membentuk kepribadian kita. Ini merupakan komitmen dari setiap warga negara dan merupakan sumber keyakinan.&lt;br /&gt;Tidak peduli apa ras dan agama kita, semua dapat bergabung dengan perayaan besar hari ini. Lebih dari 40 tahun yang lalu, beberapa orang bahkan tidak dapat menghadiri acara publik, tapi sekarang mereka bisa berdiri di sini dan mendengarkan pidato saya. Kita harus ingat hari ini: Siapakah kami. Dalam cuaca yang paling dingin ini, leluhur kita berkata seperti ini "Mari kita beritahu dunia masa depan, hanya harapan dan budi luhur yang bisa bertahan. Di hadapan cuaca musim dingin, marilah kita tabah menghadapi krisis. Kita tidak akan gagal.”&lt;br /&gt;Terima kasih, Tuhan memberkati Amerika.(lim)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-530519800081430992?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/530519800081430992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=530519800081430992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/530519800081430992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/530519800081430992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2009/01/petikan-pidato-perdana-obama-versi.html' title='Petikan Pidato Perdana Obama (versi Indonesia)'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SXlsjlD59DI/AAAAAAAAAC0/iI5Wd2pCxTA/s72-c/obama_5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-8781804100087029039</id><published>2009-01-22T22:47:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T22:51:54.707-08:00</updated><title type='text'>Full text of President Barack Obama's speech</title><content type='html'>Full text of President Barack Obama's speech&lt;br /&gt;Full text of President Barack Obama's speech.&lt;br /&gt;"My fellow citizens:&lt;br /&gt;I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.&lt;br /&gt;Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because we the people have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.&lt;br /&gt;So it has been. So it must be with this generation of Americans.&lt;br /&gt;That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.&lt;br /&gt;These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land -- a nagging fear that America's decline is inevitable, that the next generation must lower its sights.&lt;br /&gt;Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America -- they will be met.&lt;br /&gt;On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.&lt;br /&gt;On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn-out dogmas, that for far too long have strangled our politics.&lt;br /&gt;We remain a young nation, but in the words of scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.&lt;br /&gt;In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of shortcuts or settling for less. It has not been the path for the fainthearted -- for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things -- some celebrated, but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path toward prosperity and freedom.&lt;br /&gt;For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life.&lt;br /&gt;For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.&lt;br /&gt;For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sanh.&lt;br /&gt;Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.&lt;br /&gt;This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on Earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions -- that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.&lt;br /&gt;For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act -- not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. And all this we will do.&lt;br /&gt;Now, there are some who question the scale of our ambitions -- who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.&lt;br /&gt;What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them -- that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply. The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works -- whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public's dollars will be held to account -- to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day -- because only then can we restore the vital trust between a people and their government.&lt;br /&gt;Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control -- the nation cannot prosper long when it favors only the prosperous. The success of our economy has always depended not just on the size of our Gross Domestic Product, but on the reach of our prosperity; on the ability to extend opportunity to every willing heart -- not out of charity, but because it is the surest route to our common good.&lt;br /&gt;As for our common defense, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our founding fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience's sake. And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman and child who seeks a future of peace and dignity, and we are ready to lead once more.&lt;br /&gt;Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint.&lt;br /&gt;We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort -- even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the specter of a warming planet. We will not apologize for our way of life, nor will we waver in its defense, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.&lt;br /&gt;For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus -- and nonbelievers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this Earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.&lt;br /&gt;To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West -- know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.&lt;br /&gt;To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to the suffering outside our borders; nor can we consume the world's resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.&lt;br /&gt;As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honor them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service, a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment, a moment that will define a generation, it is precisely this spirit that must inhabit us all.&lt;br /&gt;For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter's courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that finally decides our fate.&lt;br /&gt;Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends -- honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism -- these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths. What is required of us now is a new era of responsibility -- a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.&lt;br /&gt;This is the price and the promise of citizenship.&lt;br /&gt;This is the source of our confidence -- the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.&lt;br /&gt;This is the meaning of our liberty and our creed -- why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than 60 years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.&lt;br /&gt;So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have traveled. In the year of America's birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:&lt;br /&gt;"Let it be told to the future world ... that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive ... that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet" it.&lt;br /&gt;America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children's children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.&lt;br /&gt;Thank you. God bless you. And God bless the United States of America.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-8781804100087029039?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/8781804100087029039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=8781804100087029039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/8781804100087029039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/8781804100087029039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2009/01/full-text-of-president-barack-obamas.html' title='Full text of President Barack Obama&apos;s speech'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-174133667064653970</id><published>2008-09-22T02:19:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T02:21:07.843-07:00</updated><title type='text'>DARI “MUDIK SOSIAL” MENUJU “MUDIK SPIRITUAL”</title><content type='html'>Oleh Muhibuddin Alawy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena mudik atau pulang kampung bagi masyarakat muslim menjelang hari raya Idul Fitri dan juga Idul Adha di Indonesia adalah suatu tradisi yang sangat unik dan banyak menyedot perhatian banyak kalangan, baik oleh pemerintah, pengusaha, bahkan media massa yang memberikan porsi pemberitaan yang khusus selama musim mudik ini berlansung. Bahkan banyak pula partai politik yang berlomba-lomba untuk memberikan fasilitas transportasi dengan tema ‘mudik bersama’ untuk menarik simpati masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tradisi-tradisi lainnya yang berkembang subur di masyarakat, mudik telah dianggap ritual yang wajib dijalani oleh mayoritas masyarakat perkotaan untuk kembali ke kampung halaman bertemu dan berbagi kasih dengan orang tua, keluarga dan sanak saudara, bersilaturrahim dengan masyarakat kampung halaman yang telah membesarkannya dahulu, dan yang utama adalah untuk mendapatkan kebebasan dosa dengan saling bermaaf-maafan (wal ‘afiina aninnas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sosiologis, mudik dapat difahami sebagai fenomena sosial dimana masyarakat merelakan dirinya untuk bersusah payah berbondong-bondong dalam kemacetan, berdahaga dan lelah dalam perjalanan nun jauh, berdesak-desakan dalam gerbong kereta, membelanjakan sejumlah harta untuk berbagi dengan sesama. Semua itu digerakkan oleh rasa kangen dan rindu akan kasih orang tua terutama ibu, rindu akan kedamaian bersama dan berkumpul dengan keluarga, saling berbagi dengan sanak saudara, dan bertemu dengan handai taulan yang telah lama tidak bertemu. Semua fakta sosial yang berbalut oleh kondisi kejiwaan ini dapatlah dimaknai sebagai fenomena sosio-psikologis, dimana ada dorongan-dorongan psikologis yang ‘mewajibkan’ seseorang untuk menjalani ritual mudik tersebut dengan apapun resiko yang dihadapinya. Sebab fakta mengatakan bahwa di saat mudik-lah angka statistik kecelakaan lalulintas meningkat dibanding dengan di saat hari-hari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ekonomis, mudik juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah akibat dinamika peredaran uang yang cukup massif di daerah. uang yang semula sirkulasi peredarannya mayoritas di perkotaan terutama ibu kota, maka di kala mudik masyarakat akan membawa dan membelanjakannya di kampung halaman atau di daerahnya. Maka tidak heran jika di kala musim mudik, toko-toko sembako dan makanan suguhan ramai diserbu pengunjung, gerai pakaian juga ramai pembeli, itulah musim panen bagi para pemiliknya sebab kuntungan besar akan didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, ada banyak nilai yang dapat digali dan dikembangkan dengan tradisi mudik sosial ini. Bahwa setiap kita semestinya tidak melupakan asal-usul kita, tempat kita berasal dan dilahirkan, sanak saudara yang masih terikat darah dengan kita, serta masyarakat yang telah membesarkan kita. Para pemudik tidaklah menganggap masalah dengan berdesak-desakan di kendaraan, berpeluh dalam perjalanan, dan tentunya dengan ongkos yang tidak murah sebab setiap mudik harga selalu istimewa, yang semuanya itu dilakukan hanya untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi mendekap rindu yang telah lama terpendam di kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mudik, seseorang merasa menemukan kembali asal-usulnya, seakan hilang ‘haus’ dan ‘dahaga’ rindu akan belai kasih orang tua, kehangatan hubungan sanak saudara, keakraban silaturahmi dengan masyarakat sekitar. Semua rasa itu tak akan tergantikan dengan perkalian materi ataupun uang dan juga tidak dapat diwakilkan oleh siapapun. Sebab dengan menjalani ritual mudik, seseorang seakan telah me-recharge energi spiritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, untuk menjalani ritual tahunan ini, ada banyak hal yang harus dipersiapkan secara matang, sebab jika tidak dipersiapkan dengan baik maka bisa jadi akan ada banyak halangan dan ketidaknyamanan dalam perjalanan mudik yang akan dihadapi, karena perjalanan mudik secara massif terjadi di hari-hari akhir menjelang hari H, maka sudah dapat dipastikan kepadatan arus lalulintas yang dapat mengakibatkan kemacetan panjang di jalan-jalan yang merupakan jalur utama mudik. Nah, jika kurang persiapan maka mudik bagi yang kurang mempersiapkan diri dengan baik itu hanya akan menghasilkan ketidaknyamanan, kesulitan, dan tentu ketidakbahagiaan dalam perjalanan pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan Bekal Mudik&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa hal yang setidak-tidaknya patut dipersiapkan oleh siapapun yang ingin menjalani ritual mudik ini, antara lain; pertama, kesehatan badan dengan stamina yang fit dan prima. Kondisi kesehatan yang prima sangatlah dibutuhkan oleh para pemudik karena perjalanan yang akan ditempuhnya jauh dan melelahkan, ditambah lagi dengan padatnya arus lalulintas yang sering mengakibatkan stres dan pegal-pegal.&lt;br /&gt;Kedua, kesiapan ongkos dan biaya selama mudik. Ongkos transportasi dikala mudik biasanya agak mahal jika dibandingkan dengan hari-hari biasa, sebab ada istilah ‘tuslah’ dan berbagai macam dalih bagi perusahaan transportasi untuk menaikkan ongkos transportasi bila perlu dua kali lipat harga normal. Biaya selama mudik juga biasanya harus dipersiapkan secara ekstra, sebab harga semua barang kebutuhan pokok naik menjadi sangat istimewa.&lt;br /&gt;Ketiga, oleh-oleh untuk orang tua, keluarga/kerabat. Hal yang terakhir ini meskipun tidak ‘wajib’ tetapi dengan oleh-oleh, keluarga atau kerabat akan merasa dihargai dan diperhatikan meskipun sekedar berupa makanan atau sesuatu yang harganya tidak seberapa, tetapi efek psikologisnya sangatlah terasa dalam mengokohkan ikatan tali persaudaraan dan menghangatkan silaturahmi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju “Mudik Spiritual”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fenomena mudik secara sosial tersebut diatas, sebenarnya dapat ditarik ‘ibrah’ atau relevansinya dalam konteks ‘mudik spiritual’ menuju Allah swt, Sang Khaliq. Kesadaran ‘mudik spiritual’ seyogyanya menjadi kesadaran umum (common sense) masyarakat muslim Indonesia dengan pemaknaan dan pentakwilan seluas-luasnya. ‘Mudik spiritual’ dapat dimaknai sebagai ‘pulang kembali’ kepada Allah swt dengan meninggalkan segala hal yang dilarangNya, serta menjalankan segala hal yang diperintahkanNya (al-amru bi al-ma’ruf wa al-nahyu ani al-munkar). Allah swt adalah sumber kehidupan dan tempat kembalinya kehidupan. Allah swt adalah asal-muasal kehidupan dan makhluq hidup serta kepadaNya semua bergantung dan akan kembali. Allah swt haruslah menjadi ‘pelita’ yang menuntun dan menerangi jalan terjal hidup setiap manusia, bahwa semua -yang sementara dianggap baik dan buruk- adalah bersumber dari Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mudik spiritual’ adalah ‘titik balik’ kesadaran manusia beriman dikala merasa jauh dari Khaliqnya, dikala terlelap dalam nestapa dan terperosok dalam kubangan dosa. Ketika kehidupan seseorang telah terbelenggu oleh keindahan dan kemegahan dunia, dikala segala daya dan upaya hanya terfokus untuk mencari dan mengumpulkan harta kekayaan dengan mengabaikan kewajiban ilahiyah (huququllah) dan insaniyah (huququnnas), maka perlahan-lahan ia secara tidak sadar telah menjauhkan dirinya dari orbit kehidupan, pelan-pelan ia telah menarik dan mengurung diri dalam bilik kegelapan, tarikan nafasnya hanya berbau ‘alkohol dan anggur’ yang memabukkan dan membuatnya lupa siapa dirinya yang sebenarnya, ia lupa darimana berasal dan harus kemana menuju, sebab baginya tumpukan harta di kehidupan dunia ini akan mengekalkannya, tidak akan ada akhir kehidupan (no end of the life) dan semuanya dapat dipermudah dengan harta, semua hal bisa diatur dengan kuasa harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mudik spiritual’ adalah momentum manusia Indonesia untuk hijrah dari ‘kemiskinan spiritual’ menuju ‘kekayaan bathin’ yang berlimpah hikmah, hati yang selalu diterangi oleh ‘nurul anwar’  (cahaya di atas cahaya) yang tidak pernah padam yang memancar tidak hanya ‘ke dalam’ sebagai pelita penunutun kebajikan bagi yang memilikinya, tetapi memancar ‘ke luar’ sebagai obor yang mampu menerangi masyarakat di sekitarnya agar mereka mampu menanam kebaikan-kebaikan yang berguna sebagai investasi di kehidupan akhiratnya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mudik spiritual’ merupakan tonggak kebangkitan kesadaran manusia untuk menyadari dan menemukan kembali (reinvinting) jatidirinya yang telah lama terkubur dalam lumpur hawa nafsu. Jatidiri sebagai makhluq, jatidiri sebagai manusia yang lemah dan tak berdaya dihadapan mahkamah Sang Khaliq. Kebangkitan kesadaran untuk memulihkan hati yang telah terluka karena telah berpaling lama dan tersayat oleh sembilu dosa. Ia harus bangkit dan sadar bahwa ia hanyalah manusia yang harus bersujud menguntai rasaya syukur dan bertasbih menyucikan nama-nama Allah dan tidak pula menyekutukannya. Jatidiri harus ditemukan kembali dan dibersihkan agar menjadi suci untuk bertemu Allah swt. di perjamuan agungNya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diktum ‘mudik sosial’ di akhir ramadhan ini, bangsa Indonesia haruslah juga melakukan ‘mudik spiritual’ untuk tidak korupsi, mencuri kekayaan negara, mencuri hak rakyat, dan memeperrendah harga diri bangsa. ‘Mudik spiritual’ untuk tidak membabat hutan dan menjarah kekayaan bumi di dalamnya. ‘Mudik spiritual’ untuk tidak mencemari lingkungan dan mencegah pemanasan global. ‘Mudik spiritual’ dengan menjaga diri untuk tidak berbuat aniaya meskipun dengan kata-kata kepada sesama. ‘Mudik spiritual’ adalah buah puasa yang mengajarkan manusia untuk hanya tunduk dan patuh kepada Tuhannya, hadiah pembelajaran ramadhan yang mengajarkan manusia untuk sabar menahan diri dari segala yang asusila sehingga ia menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa (la’allakum tattaquun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pula ‘mudik sosial’, dalam ‘mudik spiritual’ setiap kita juga harus mempersiapkan diri dengan berbagai bekal, bekal menuju Allah swt. Hati, jiwa dan raga harus ‘dicuci bersih’ dari noda dan kotoran dosa. Hati, jiwa dan raga harus ditaburi minyak yang wangi nan menggairahkan bagi yang mencium baunya. Setiap kita juga harus sehat secara rohani dan sehat secara hakiki. Dalam ‘mudik spiritual’ setiap kita juga harus membekali diri dengan pahala, sahadaqah, amal kebajikan, ilmu yang bermanfaat dan investasi generasi yang berguna bagi umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ‘mudik spiritual’ setiap kita juga harus mempersembahkan oleh-oleh kepada Sang Khaliq berupa diri yang sudah suci, diri yang hanya menempel di dalam diri itu kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan secara tulus dan ikhlas lii thalabi mardlatillah, oleh-oleh yang berupa sumpah satya bhakti dengan dua kalimat syahadah dan kalimat thayyibah, yang berupa shalat wajib dan shalat malam, yang berupa sedekah yang diikhlaskan, yang berupa puasa dengan menahan amarah dan dahaga, dan yang berupa haji yang dimabrurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ‘mudik spiritual’ semoga kita, bangsa Indonesia akan menjadi manusia-manusia baru yang baru dilahirkan dari tempahan ramadhan, manusia yang telah kembali fitri dan siap ’menjemput impian’ bertemu dengan Rabbnya, manusia yang penuh dengan kerinduan untuk bertemu (ilqa’) dan menyatu (wihdatul wujud) dengan Sang Kekasih, rabbul izzati wal jalal . Menjadi sosok manusia paripurna (al-insan al-kamil). [mhb]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Wallahu a’lam bisshawab-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-174133667064653970?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/174133667064653970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=174133667064653970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/174133667064653970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/174133667064653970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/09/dari-mudik-sosial-menuju-mudik.html' title='DARI “MUDIK SOSIAL” MENUJU “MUDIK SPIRITUAL”'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-5222137456282654757</id><published>2008-09-19T00:07:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T00:57:44.074-07:00</updated><title type='text'>Ajal Itu Pasti Tiba...</title><content type='html'>(sekedar renungan spiritual)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Professor dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung pernah menulis di HU Republika tentang "Ajal Pasti Tiba", sontak banyak pembaca berkomentar "sereeem seklai judulnya". tempo hari hal itu beliau ceritakan kepada penulis, dan jawab penulis;"lho...itu bagus pak, dan bagi saya hal itu gak ada serem-seremnya, sebab kematian adalah kepastian. seperti halnya, hidup, rizki dan jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt dalam QS. al-jumu'ah menantang kepada orang-orang yang menganggap dirinya sebagai orang yang canggih, pandai cendekia, expert, pakar dan memiliki kemampuan pengetahuan di atas rata-rata untuk menjelaskan teorisasi tentang kematian jika mereka mampu. Namun, mereka dipastikan tidak akan mampu selamanya sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka. lalu Allah menegaskan bahwasanya kematian yang kita (manusia) lari menjauhinya pasti akan menemukan kita, lalu kita akan dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita di kala hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kematian atau ajal yang tidak bisa ditunda atau dimajukan (al-a'raf/7:34), jika Allah berkehendak maka akan terjadi. Jadi, apa yang mesti ditakuti, padahal itu sebuah kepastian. hanya orang-orang yang telah terelenggu jiwanya oleh kubangan materilah yang takut untuk kembali kepada Yang Menciptakan Hidup ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-5222137456282654757?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/5222137456282654757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=5222137456282654757' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5222137456282654757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5222137456282654757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/09/ajal-itu-pasti-tiba.html' title='Ajal Itu Pasti Tiba...'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-6565205093523699740</id><published>2008-09-02T21:39:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T21:40:01.530-07:00</updated><title type='text'>CINTA SEORANG IBU</title><content type='html'>Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi. Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan :"Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati" Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan"Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya".Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah. Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya. Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng. Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng. Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya. Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini. Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita. Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is a story living in us that speaks of our place in the world. It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves. Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatanAmbillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadiAmbillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenanganAmbillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaanAmbillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan TuhanAmbillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaanAmbillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hatiAmbillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berartiAmbillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilanAmbillah waktu utk beramal, itu adalah kunci utk menuju surgaGunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar kembali&lt;br /&gt;Jika kamu menyayangi Ibumu, "FORWARD" lah&lt;br /&gt;Email ini kepada sahabat-sahabat anda. SEBERAPA DALAM KAMU MENCINTAI IBUMU ????  mother is the best super hero in the world. [Author : unknown]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-6565205093523699740?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/6565205093523699740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=6565205093523699740' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6565205093523699740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6565205093523699740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/09/cinta-seorang-ibu.html' title='CINTA SEORANG IBU'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-2217813453568510563</id><published>2008-08-28T21:41:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T21:42:43.413-07:00</updated><title type='text'>Kelaparan atau Dimakan Singa?</title><content type='html'>Setiap pagi, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat daripada singa. Kalau tidak, ia akan dimakan singa.Setiap pagi, seekor singa bangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat daripada rusa. Kalau tidak, ia akan mati kelaparan.Tidak menjadi soal apakah anda seekor singa ataukah seekor rusa. Begitu matahari terbit, sebaiknya anda berlari!Jangan lewatkan waktu sedetik pun, cepatlah berlari menjemput impian anda!  Berusaha adalah mengambil resiko. Tapi resiko harus dihadapi karena bahaya terbesar dalam hidup ini adalah tidak mengambil resiko sama sekali.Orang yang tidak berani menghadapi resiko, tidak akan melakukan apa-apa, tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Mereka mungkin saja menghindari penderitaan dan kesengsaraan. Tapi mereka tidak bisa belajar, merasakan, mengubah, tumbuh, mencintai atau hidup.Dalam keadaan terikat oleh kepastian, mereka telah mengekang kebebasan mereka sendiri. Hanya orang yang berani mengambil resiko adalah orang yang bebas.Ambil resiko SEKARANG!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga (tanpa spasi):- Bisnis-bisnis Prospektif di Bulan Ramadhan&lt;a href="http://dexton.adexindo.com/artikel-agustus4-ide-bisnis-ramadhan.html" target="_blank"&gt;http://dexton. adexindo. com/artikel- agustus4- ide-bisnis- ramadhan. html&lt;/a&gt;- Sudah Tepatkah Pilihan Pekerjaan Anda?&lt;a href="http://dexton.adexindo.com/artikel-sudah-tepat-pekerjaan.html" target="_blank"&gt;http://dexton. adexindo. com/artikel- sudah-tepat- pekerjaan. html&lt;/a&gt;- Anda Smart Worker?&lt;a href="http://dexton.adexindo.com/artikel-agustus3-anda-smart-worker.html" target="_blank"&gt;http://dexton. adexindo. com/artikel- agustus3- anda-smart- worker.html&lt;/a&gt;Happy Reading! Mudah-mudahan bermanfaat yaa ;)Rosa S. RustamDexton IndonesiaMajalah Online untuk Pebisnis Pemula&lt;a href="http://www.dexton.adexindo.com/" target="_blank"&gt;http://www.dexton. adexindo. com&lt;/a&gt;PS: Buat rekan-rekan yang mau sharing soal bisnis atau sekedar say hello, kontak langsung aja yaa ke &lt;a href="http://id.f761.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=ocha%40adexindo.com" target="_blank" ymailto="mailto:ocha%40adexindo.com"&gt;ocha@adexindo. com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-2217813453568510563?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/2217813453568510563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=2217813453568510563' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2217813453568510563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2217813453568510563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/kelaparan-atau-dimakan-singa.html' title='Kelaparan atau Dimakan Singa?'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-6150569847248154596</id><published>2008-08-28T21:37:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T21:41:04.973-07:00</updated><title type='text'>Shi Sang Chi You Mama Hau</title><content type='html'>cerita dari negeri tirai bambu :&lt;br /&gt;"Shi Sang Chi You Mama Hau" (Di dunia ini, hanya Ibu orang yang paling baik)&lt;br /&gt;Kisah ini diterjemahkan dari buku cerita Tiongkok yang masih terusditerbitkan hingga beberapa generasiAlkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang priaberasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang dikota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu,hidupserba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati.Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah,dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah merekaduga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orangyang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusakreputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodohyang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orangtuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonyabagi dia.Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanitatsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terusberargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataanorangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya(di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orangtuanya).Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanyaagar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karenagagalmembujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yangmenurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Iamemutuskanuntuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktukeberangkatan punditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sangpria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalamkamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telahditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanitasangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Merekakemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anakmereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosialyang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjinganseluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidakakan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskankepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan2.Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonanagar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknyalagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untukmembiayai hidupnya di tempat lain.Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadarbahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkanbanyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untukmeninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Iamencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar,jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkansepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilihberpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terusmencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya."Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnyasebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalianberdua", kata sang ibu.Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskanbahwa iasudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwakeberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karenatelah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalubersama dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosialmereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskanuntuk berpisah. Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surattersebut.Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Iaterjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkankota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil.Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------Tiga tahun telah berlalu.&lt;br /&gt;Ternyata wanita tersebut telah menjadiseorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang danmalam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, iabekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyucipakaian2tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan.Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anakdi punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwapekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisianaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh denganpekerjaannya?Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras.Demamnyasangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsbharus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatantelah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnyaselamaini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam kesana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikanpinjaman.Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat supramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsbterdiri dariobat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibuhanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpunlagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin,karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belumterbayar.Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa,untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolakpermintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkoholyang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain.Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekadmengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkananaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotongkain.Darah berhamburan.Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambilberusahatidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitansang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknyasendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yangsedang dilakukan oleh sang ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yangtampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya.Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut,bermain bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu "Shi Sang Chi YouMamaHau" (terjemahannya : "Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik").Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagaipenjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di sianghari.Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sanganak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunyamenyuci dimalam hari.Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahanbiaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniatmembelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selamaini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolaksetelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana,tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masihbanyak keperluan lain yang perlu dibiayai.Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh darirumahnya. Iameminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb,karena ia akan membelinya bulan depan. "Apakah kamu punya uang?"tanyasang pemilik toko. "Tidak sekarang, nanti saya akan punya", katasanganak dengan serius.Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jamtangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya "Dari mana kamumendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?". "Saya tidak mencuri,kakek.Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becakpulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saatpulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya sayasimpanuntuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya,jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah" kata sanganak.Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anaksegera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jamtangantsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jamtangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar,dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut,tidak maumenjawab."Apakah kamu mencuri, Nak?" Sang anak diam seribu bahasa, ia tidakingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.Setelahditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknyatelah mencuri. "Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri.Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?" kata sang ibu.Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibusayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sanganakmenangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinyabegituperih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harusmelakukannya, demi kebaikan anaknya.Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju kerumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahuikejadiannya."Ia sebenarnya anak yang baik", kata salah satu tetangganya.Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salahsatu tetangganya yang merupakan familinya.Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu.Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untukmenjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko,memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya."Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidakboleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya". Sang anak mengikutinasehatkakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anaktiba2muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jamtangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu munculsiang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahunibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki darisekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulanini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan haltsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anakkesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu? ."Maafkan saya,Nak.""Tidak Bu, saya yang bersalah"??? ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapiistrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedihakanhal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuahkesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayahbaru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darahdagingnya sendiri.Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semuabiaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup denganbaik tanpa bantuanmu.Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begituingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Doktermengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yangkonsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya.Tetapibiaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusiyang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepadasang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknyaberkeliling kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembirasekali, menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau", lagukesayanganmereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, iahanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sanganak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingindengan ibu. "Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak"kata ibu."Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bilabisabersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyakuang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidakperlubekerja lagi, Bu", kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akanberkunjungke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuhsetiap saat.Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangatsenang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sanganak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikanmainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersamaibunya, sang anak menolak. "Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainanitu", teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih danmenangis, sang ibu berkata "Nak, kamu harus dengar nasehat ibu.Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.""Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu,bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau sayalagi", sanganak mulai menangis.Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidakdidengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 "Kalau ibusayang padaku, bawalah saya pergi, Bu". Sampai pada akhirnya, ibunyamemaksa dengan mengatakan "Benar, ibu tidak sayang kamu lagi.Tinggallah disini", ibunya segera lari keluar meninggalkan rumahtsb.Tampak anaknya meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitumenyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidakdiperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawatanaknya dengan baik.Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Iatelah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotongurat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknyamungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidupuntuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera,niatbunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkankerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetapmenjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.Uang pundapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payahmengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, iatidakpulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggalibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telahmempersiapkansetangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap harimerindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilaiujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menujurumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah initelahkosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yangtahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, iaduduk di depan rumah tsb, menangis "Ibu benar2 tidakmenginginkan sayalagi."Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anaksudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Gurusekolahmengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapitidak ada kabar.Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut.Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu.Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampaimelupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayahdan sangibu segera naik mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanyamenemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yangbagus,dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya,saat membaca tulisan2 imut anaknya dalam surat itu.Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpamendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudiansang ibumembakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambilmenangisia memohon agar bisa menemukan anaknya.Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknyapernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernahberkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepadaDewiKuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu,jika niatkamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuiltsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan,demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untukdilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibuterjatuhdari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah....... .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangkukuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalanibunya.Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anaktelah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapihasilnya nihil.Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersamadengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju denganmobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tuayang sedang mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakaitongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnyakumal, dan ia tampak berkomat-kamit.Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turunbersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sangpengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah,ia berucap dengan lemah "Dimanakah anakku? Apakah kalian melihatanakku?"Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segeramenyanyikan lagu "Shi Sang Ci You Mama Hau" dengan suaraperlahan, takdisangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah.Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yangselalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memelukpengemis tua itu dan berteriak dengan haru "Ibu? Ini saya ibu".Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalubertanya, "Apakah kamu ??..(nama anak itu)?" "Benar bu, saya adalahanak ibu?".Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaurmembasahi bumi.Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadihilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terusmencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagianorangmenganggapnya sebagai orang gila?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demikita. Ibubahkan rela mengorbankan nyawanya?..Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masihmuda, ataupun disaat Ibu sudah tua :1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan,ambillah aku sebagai gantinya.2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/IkandungAnda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang relamengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan caraapapun ?Tidak diragukan lagi "Ibu kita adalah Orang Yang Paling Baik didunia ini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------*Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah iauntuk keluar makan atau jalan2 MALAM INI JUGA. Jangan ditunda2.Bila Ibu Anda tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda,telponlah dia malam ini juga, just to say "hello". Catatlah hariulangtahunnya, rayakan, dan bahagiakanlah dia semampu Anda. Hidangkanmakanan favoritnya, dst.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-6150569847248154596?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/6150569847248154596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=6150569847248154596' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6150569847248154596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6150569847248154596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/shi-sang-chi-you-mama-hau.html' title='Shi Sang Chi You Mama Hau'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-3715434441537720466</id><published>2008-08-25T01:19:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T01:20:47.014-07:00</updated><title type='text'>KISAH DARI BIARA</title><content type='html'>Seorang laki-laki sedang mengendarai mobilnya ketika tiba-tiba saja mobilnya mogok tepat di depan sebuah biara. Hari sudah gelap dan biara itu berada di sebuah pegunungan. Lelaki itu memutuskan untuk masuk ke biara untuk meminta pertolongan, maka diketuknya pintu biara dan ia berkata kepada para pendeta yang membukakan pintu, "Maaf permisi, mobil saya mogok, dan hari sudah malam, apakah saya boleh menginap disini satu malam saja!"Para pendeta itu dengan ramah menyambutnya, menyediakan makanan, bahkan memperbaiki mobilnya. Ketika si lelaki itu sudah hampir tertidur, tiba-tiba di dengarnya suara yang sangat aneh. Keesokan paginya dia bertanya ke para pendeta mengenai suara aneh yang didengarnya semalam. Tapi mereka berkata "maaf kami tidak dapat memberitahukan anda, sebab anda bukan pendeta".&lt;br /&gt;Si lelaki agak kecewa, tapi bagaimanapun dia tetap berterima kasih dan kembali meneruskan perjalanannya. Beberapa tahun kemudian, lelaki yang sama mengalami kejadian yang sama pula, kendaraannya mogok di depan biara yang sama. Para pendeta kembali menyambutnya dengan sangat ramah, menyediakan makanan dan memperbaiki mobilnya, ketika si lelaki hampir tertidur, dia kembali mendengar suara aneh yang sama seperti yang di dengarnya beberapa tahun lalu.Maka keesokan paginya lelaki itu kembali bertanya pada para pendeta, dan kembali pula pendeta-pendeta itu berkata: "Maaf kami tidak dapat memberitahukan anda, sebab anda bukan pendeta".Si lelaki benar-benar penasaran, lalu dia menjawab "Okey ....okey, saya sudah tidak tahan lagi, kalau satu-satunya cara untuk tahu suara apa yang saya dengar itu adalah dengan menjadi pendeta, baiklah, tolong beritahu saya bagaimana caranya menjadi pendeta!" Salah seorang pendeta menjawab, "Kamu harus berkeliling dunia dan sekembalinya, kamu harus bisa memberitahu kami berapa persisnya jumlah daun dan jumlah butiran pasir di bumi ini, jika kamu sudah berhasil mendapatkan jumlah itu, maka kamu akan menjadi pendeta."Maka si lelaki itu melaksanakan tugasnya, setelah empat puluh lima tahun, dia kembali dan mengetuk pintu biara, dia berkata "Saya sudah berkeliling dunia dan telah menghitung sepanjang perjalanan saya, saya juga terus bertanya kepada setiap orang yang saya jumpa, terdapat 145,236,284, 232 helai daun dan 231,281,219, 999,129,382 butir pasir di bumi ini." Parapendeta menjawab "Selamat, kamu sekarang adalah seorang pendeta, oleh karena itu kami akan menunjukkan pada kamu jalan menuju suara yang kamu dengar dahulu."Para pendeta membimbing lelaki itu ke sebuah pintu kayu, lalu pimpinan pendeta berkata "Suara itu berasal persis di balik pintu ini"Si lelaki meraih pegangan pintu, namun ternyata pintu itu terkunci, lalu dia berkata "Ini lucu, tapi saya lagi tidak ingin bercanda, tolong berikan saya kuncinya..." Pemimpin pendeta memberikan kunci, lalu lelaki itu membuka pintu.Dibalik pintu kayu ternyata ada pintu lain, sebuah pintu batu, kembali si lelaki meminta kunci.  Pendeta memberikan kunci, dan si lelaki membuka pintu, dan ternyata dibalik pintu batu, masih ada pintu yang lain, sebuah pintu dari emas. Kembali si lelaki meminta kunci, membuka pintu, lalu menemukan pintu yang lain, yaitu yang terbuat dari perak. Begitu terus yang terjadi, pintu dari permata, pintu dari perunggu, pintu tembaga....hingga akhirnya para pendeta berkata: "Ini adalah kunci terakhir untuk pintu yang terakhir".Lelaki itu akhirnya lega setelah capai dengan penantian. Dibukanya pintu terakhir yang terbuat dari tanah liat, menyentuh pegangan pintu dan terpana luar biasa begitu melihat sumber suara yang telah membuatnya penasaran bertahun-tahun. .....Tahukah anda sumber suara tersebut ?&lt;br /&gt;Geser ke bawah ............ ..jika ingin tahu........ ......... .sumber suara itu berasal..... ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus ke bawah....... ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus lagi kebawah ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf ............ .kami tidak dapat memberitahukan anda, ........sebab anda bukan pendeta ! ! !&lt;br /&gt;ha.......ha .........ha. ............ ...ha ..... ha ..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah memang pedih kalau udah baca dengan serius ternyata endingnya begini dan untuk mengobati rasa pedih terpaksa deh mesti bagi-bagi biar sakit hatinya berkurang. ~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-3715434441537720466?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/3715434441537720466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=3715434441537720466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/3715434441537720466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/3715434441537720466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/kisah-dari-biara.html' title='KISAH DARI BIARA'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-5650029303698263629</id><published>2008-08-25T01:16:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T01:18:43.257-07:00</updated><title type='text'>TERIMA KASIH TUHAN</title><content type='html'>Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat&lt;br /&gt;      menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga. Kami berjalan memasuki&lt;br /&gt;      suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat. Malaikat yang&lt;br /&gt;      mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, 'Ini&lt;br /&gt;      adalah Seksi Penerimaan. Disini,semua permintaan yang ditujukan pada&lt;br /&gt;      Allah diterima'. Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku&lt;br /&gt;      dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang&lt;br /&gt;      memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari&lt;br /&gt;      manusia di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang&lt;br /&gt;      panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku&lt;br /&gt;      berkata, 'Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Disini&lt;br /&gt;      kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke&lt;br /&gt;      manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya'. Aku perhatikan&lt;br /&gt;      lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang&lt;br /&gt;      bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang&lt;br /&gt;      dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh&lt;br /&gt;      koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja&lt;br /&gt;      yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu&lt;br /&gt;      malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun. 'Ini&lt;br /&gt;      adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih', kata Malaikatku pelan. Dia&lt;br /&gt;      tampak malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?', tanyaku.&lt;br /&gt;      'Menyedihkan' , Malaikat-ku menghela napas. ' Setelah manusia&lt;br /&gt;      menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang&lt;br /&gt;      mengirimkan pernyataan terima kasih'. 'Bagaimana manusia menyatakan&lt;br /&gt;      terima kasih atas berkat Tuhan?', tanyaku. 'Sederhana sekali', jawab&lt;br /&gt;      Malaikat. 'Cukup berkata, 'Terima kasih, Tuhan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri', tanyaku. Malaikat-ku&lt;br /&gt;      menjawab, 'Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang&lt;br /&gt;      menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka&lt;br /&gt;      engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh,&lt;br /&gt;      maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah&lt;br /&gt;      bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada&lt;br /&gt;      kesakitan ... engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di&lt;br /&gt;      dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian&lt;br /&gt;      dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat&lt;br /&gt;      sangat Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Jika engkau dapat menghadiri Gereja atau pertemuan religius tanpa&lt;br /&gt;      ada ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan, atau&lt;br /&gt;      kematian... maka engkau lebih diberkati daripada 3 milyar orang di&lt;br /&gt;      dunia'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan&lt;br /&gt;      ... maka engkau termasuk orang yang sangat jarang'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      ' Jika engkau masih bisa mencintai ... maka engkau termasuk orang&lt;br /&gt;      yang besar, Karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari&lt;br /&gt;      manapun'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau&lt;br /&gt;      bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik ibandingkan semua&lt;br /&gt;      mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan' .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      'Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat&lt;br /&gt;      ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir&lt;br /&gt;      bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau&lt;br /&gt;      lebih diberkati daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan&lt;br /&gt;      tidak dapat membaca sama sekali'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan&lt;br /&gt;      kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua&lt;br /&gt;      teman-teman- mu untuk mengingatkan mereka betapa. diberkatinya kita&lt;br /&gt;      semua. Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, 'Sesungguhnya&lt;br /&gt;      jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat&lt;br /&gt;      kepadamu'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih. 'Terima kasih,&lt;br /&gt;      Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anugerahmu berupa kemampuan untuk&lt;br /&gt;      menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak&lt;br /&gt;      teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi'. ~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-5650029303698263629?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/5650029303698263629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=5650029303698263629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5650029303698263629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5650029303698263629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/terima-kasih-tuhan.html' title='TERIMA KASIH TUHAN'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-2648956385760267360</id><published>2008-08-25T01:05:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T01:08:08.951-07:00</updated><title type='text'>BOSAN HIDUP?!</title><content type='html'>Seorang pria mendatangi seorang Guru. "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati saja."&lt;br /&gt;Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."&lt;br /&gt;"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."&lt;br /&gt;Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu bernama 'alergi hidup'".&lt;br /&gt;"Kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita."&lt;br /&gt;"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku," kata sang Guru.&lt;br /&gt;"Tidak, Guru. Tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi," pria itu menolak tawaran sang Guru.&lt;br /&gt;"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" tanya Guru.&lt;br /&gt;"Ya, memang saya sudah bosan hidup," jawab pria itu lagi.&lt;br /&gt;"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu mati saja. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."&lt;br /&gt;Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.&lt;br /&gt;Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.&lt;br /&gt;Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu" . Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.&lt;br /&gt;Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih&lt;br /&gt;tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istri pun merasa aneh dengan sikap manis suaminya, kemudian berkata, "Sayang, selama ini mungkin aku salah. Maafkan aku ya."&lt;br /&gt;Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai pendapat-pendapat yang berbeda. Stafnya pun bingung. "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Sikap mereka pun berubah kepada Bos, lebih penurut dan tidak ngeyel.&lt;br /&gt;Hidup menjadi lebih indah. Ia mulai menikmatinya.&lt;br /&gt;Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan". Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami."&lt;br /&gt;Sungai kehidupan mengalir kembali. Hidup terasa sangat indah. Pria itu pun mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi, bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum sore sebelumnya?&lt;br /&gt;Ia mendatangi Sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata, "buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh."&lt;br /&gt;"Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu segera, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan," jelas Sang Guru panjang lebar.&lt;br /&gt;Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ia pun selalu merasa bahagia, tenang, dan hidup!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-2648956385760267360?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/2648956385760267360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=2648956385760267360' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2648956385760267360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2648956385760267360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/bosan-hidup.html' title='BOSAN HIDUP?!'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-6218180343139015331</id><published>2008-08-25T01:02:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T01:03:31.124-07:00</updated><title type='text'>Filosofi Pensil ...</title><content type='html'>oleh : Anthony Dio Martin - Managing Director HR Excellency"&lt;br /&gt;Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya" -Pepatah Jepang-Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya. "Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal." "Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal". "Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia". "Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu" . "Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat". Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya. Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini. Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan. Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna. Hilang arah .. Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang mempopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan "tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya". Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan. Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan. Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita hidup di dunia. Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless. Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali. Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler. Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu 'sakit'. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik. Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita. Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk 'tunduk' dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari 'guru' yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik. Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri kita berarti dan berharga. Itulah filosofi 'memberi dan melayani' yang diajarkan oleh Tuhan. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh Tuhan. Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-6218180343139015331?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/6218180343139015331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=6218180343139015331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6218180343139015331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6218180343139015331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/filosofi-pensil.html' title='Filosofi Pensil ...'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-7022330136957228646</id><published>2008-08-25T00:47:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T00:49:39.286-07:00</updated><title type='text'>Gusti Allah Tidak "Ndeso": Beragama yang Tidak Korupsi</title><content type='html'>&lt;div&gt;Oleh: Emha Ainun Nadjib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?" Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi. Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu. Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat.&lt;br /&gt;Salam lontong balap &amp;amp; rujak cingur&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-7022330136957228646?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/7022330136957228646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=7022330136957228646' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/7022330136957228646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/7022330136957228646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/gusti-allah-tidak-ndeso-beragama-yang.html' title='Gusti Allah Tidak &quot;Ndeso&quot;: Beragama yang Tidak Korupsi'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-5347305229449908827</id><published>2008-08-25T00:46:00.001-07:00</published><updated>2008-08-25T00:46:55.967-07:00</updated><title type='text'>KETIKA 3 PRESIDEN NEGARA BESAR DIPANGGIL TUHAN</title><content type='html'>Tuhan memanggil presiden tiga negara, AS, Cina, dan Indonesia untuk dimarahi.  Dari Amerika muncul George Bush.  Dari Cina datang Presiden Hu Jintao.  Dari Indonesia diutus Jusuf Kalla.  SBY nggak berani soalnya.Setelah habis-habisan mencela tindakan pemimpin dunia ini, Tuhan menyampaikan bahwa Ia sudah muak dan memutuskan dalam tiga hari dunia akan kiamat. Tiga pemimpin ini disuruh kembali ke negaranya untuk menyampaikan keputusan Tuhan kepada rakyat mereka masing.Ketiga pemimpin pulang ke negara masing-masing sambil putar otak, bagaimana menyampaikan kabar buruk ini kepada rakyatnya.Di depan Kongres Amerika dan disiarkan langsung di TV, presiden Bush mencoba, "Congressmen, ada kabar baik dan ada kabar buruk.  Pertama kabar baik dulu ya.   Tuhan itu benar-benar ada, seperti yang kita yakini.  Kabar buruk:  Tuhan akan memusnahkan dunia ini dalam tiga hari". Hasilnya payah, terjadi kerusuhan dan penjarahan di mana-mana.Di depan Kongres Partai Komunis Cina, Hu Jintao memodifikasi taktik Bush, "Kamerad, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu ya.  Ternyata Marx, Stalin, Ketua Mao, dan para pendahulu kita salah, Tuhan itu benar-benar ada.  Kabar buruk: Tiga hari lagi Tuhan akan mengkiamatkan dunia ini.". Hasilnya lumayan, orang-orang Cina lari, heboh dan menangis ketakutan dan membanjiri tempat ibadah, mau bertobat.Yang paling sukses Jusuf Kalla.Di depan sidang paripurna DPR yang disiarkan langsung, ia tersenyum sumringah. "Saudara sebangsa dan setanah air, saya membawa dua kabar baik.  Kabar baik pertama: Sila pertama Pancasila kita sudah benar, Tuhan itu benar-benar ada.  Kabar baik kedua: dalam tiga hari semua masalah energi, pangan, kemiskinan, terorisme, dan penderitaan di Indonesia akan segera berakhir.."Sukses besar, seluruh rakyat larut dalam pesta dangdutan dan pawai di mana-mana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-5347305229449908827?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/5347305229449908827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=5347305229449908827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5347305229449908827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5347305229449908827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/ketika-3-presiden-negara-besar.html' title='KETIKA 3 PRESIDEN NEGARA BESAR DIPANGGIL TUHAN'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-2906640969002826151</id><published>2008-08-25T00:36:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T00:46:15.803-07:00</updated><title type='text'>Filosofi Semar dalam Kebudayaan Jawa</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SLJhlB4qktI/AAAAAAAAABg/MGKiGDV5scw/s1600-h/semar.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238356605374468818" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SLJhlB4qktI/AAAAAAAAABg/MGKiGDV5scw/s320/semar.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebadra = Membangun sarana dari dasar&lt;br /&gt;Naya = Nayaka = Utusan mangrasul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Javanologi : Semar = Haseming samar-samar&lt;br /&gt;Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahas a jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar barjalan menghadap keatas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ), yang maha pengasih serta penyayang umat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia), agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri sosok semar adalah&lt;br /&gt;- Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua&lt;br /&gt;- Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan&lt;br /&gt;- Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa&lt;br /&gt;- Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok&lt;br /&gt;- Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas, dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya "merdekanya jiwa dan sukma", maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : "dalam mengujibudi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup".&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-2906640969002826151?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/2906640969002826151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=2906640969002826151' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2906640969002826151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2906640969002826151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/filosofi-semar-dalam-kebudayaan-jawa.html' title='Filosofi Semar dalam Kebudayaan Jawa'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SLJhlB4qktI/AAAAAAAAABg/MGKiGDV5scw/s72-c/semar.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-5319106319138120276</id><published>2008-08-24T22:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T22:25:41.782-07:00</updated><title type='text'>KASIH IBU</title><content type='html'>Waktu kamu berumuran 1 tahun , dia menyuapi dan memandikanmu ... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam. Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..sebagai balasannya .... kamu kabur waktu dia memanggilmu Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang .. sebagai balasannya ..... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya .. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur Waktu berumur 6 tahun,dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagaibalasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ..!"Waktu berumur 7 tahun,dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya .kamu melemparkan bola ke jendela tetanggaWaktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai balasannya.. .kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu sebagai balasannya .... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar&lt;br /&gt;Waktu kamu berumur 10 tahun,dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun .. sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam&lt;br /&gt;Waktu kamu berumur 11 tahun,dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop .. sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain Waktu kamu berumur 12 tahun,dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya .... kamu tunggu sampai dia keluar rumah Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya .sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode Waktu kamu berumur 14 tahun,dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan .. sebagai balasannya .... kamu nggak pernah menelponnyaWaktu kamu berumur 15 tahun,pulang kerja dia ingin memelukmu ...sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmuWaktu kamu berumur 16 tahun,dia mengajari kamu mengemudi mobil ....sebagai balasannya .... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpamempedulikan kepentingannya Waktu kamu berumur 17 tahun,dia sedang menunggu telpon yang penting ... sebagai balasannya ....kamu pakai telpon nonstop semalaman, waktu kamu berumur 18 tahun,dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya .... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi&lt;br /&gt;Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmuke kampus pada hari pertama ... sebagai balasannya .... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temenWaktu kamu berumur 20 tahun,dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang." Waktu kamu berumur 21 tahun,dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ....kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu." Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulusperguruan tinggi .. sebagai balasanmu ... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu." Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu .. sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km. Waktu kamu berumur 30 tahun,dia memberimu nasehat bagaimana merawatbayimu ... sebagai balasannya .... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda." Waktu kamu berumur 40 tahun , dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu .. sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."&lt;br /&gt;Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya .... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya&lt;br /&gt;dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam&lt;br /&gt;MAKA ...JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA ... BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU------------ --------- --------- --------- --------- --------- -&lt;br /&gt;Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anakyang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerimakertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.&lt;br /&gt;OngKos upah membantu ibu: 1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000 2) Menjaga adik Rp20.000 3) Membuang sampah Rp5.000 4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000 5) menyiram bunga Rp15.000 6) Menyapu Halaman Rp15.000 Jumlah : Rp85.000&lt;br /&gt;Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Siibu mengambil pena dan menulissesuatu dibelakang kertas yang sama.&lt;br /&gt;1) OngKos mengandungmu selama 9bulan - GRATIS 2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS 3) OngKos air mata yang menetes karenamu - GRATIS 4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu- GRATIS 5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dankeperluanmu - GRATIS 6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS JumlahKeseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS&lt;br /&gt;Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anakmenatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yangditulisnya: "Telah Dibayar" .&lt;br /&gt;SalamDari seorang Anak yang telah memiliki Anak...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-5319106319138120276?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/5319106319138120276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=5319106319138120276' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5319106319138120276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5319106319138120276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/kasih-ibu.html' title='KASIH IBU'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-1987617288445361765</id><published>2008-08-24T22:22:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T22:24:03.272-07:00</updated><title type='text'>ARTI SEBUTIR BERAS</title><content type='html'>Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat miskin. Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang mudah bagi pemerintah Cina untuk mensejahterakan rakyatnya.Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu dari negara super power Uni Sovyet.Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin Cina era itu dengan pemimpin Sovyet. Perselisihan begitu panas sampai keluar statement dari pemimpin Sovyet, '“ Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya. !'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, perihal penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 ( satu ) butir beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras.Nah , beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka.Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme Cina untuk bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita yang tengah terpuruk di antara bangsa-bangsa sekitarnya dan sebentar lagi akan merayakan Dirgahayu Kemerdekaannya yang ke – 63.Potensi manusia Indonesia yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan bahkan sebaliknya menjadi beban karena masih banyaknya tikus yang berada di lumbung beras Republik IndonesiaKita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari hal kecil yang tidak dilakukan dengan sepenuh hati.Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat.&lt;br /&gt;Maukah kita ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-1987617288445361765?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/1987617288445361765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=1987617288445361765' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/1987617288445361765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/1987617288445361765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/arti-sebutir-beras.html' title='ARTI SEBUTIR BERAS'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-2460515814695000960</id><published>2008-08-24T22:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T22:22:45.723-07:00</updated><title type='text'>JIKA TUHAN MENARIK PERHATIAN KITA</title><content type='html'>oleh: Eko Jalu Santoso, &lt;a href="http://www.ekojalusantoso/" target="_blank"&gt;www.ekojalusantoso&lt;/a&gt;. comDikisahkan, seorang mandor bangunan yang sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat, suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Mandor ini berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di lantai bawahnya, agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang bising, tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya tidak dapat mendengar panggilan dari sang Mandor. Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.Tiba-tiba mandor itu mendapatkan ide lain, ia kemudian mengambil batu kecil yang ada di depannya dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada dibawahnya. Karena merasa sakit kejatuhan batu, pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja dilantai bawahnya. Sahabat yang baik, untuk menarik perhatian kita manusia sebagai hambaNya, Allah seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, maupun kadangkala dengan pengalaman-pengalam an yang menyakitkan. Allah seringkali menjatuhkan "koin uang" atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah kepada kita manusia, agar mau mendongak keatas, mengingatNya, menyembah-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan lebih banyak bersyukur atas rahmat-Nya. Tuhan seringkali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan kenikmatan setiap harinya kepada kita manusia, agar kita mau menengadah kepada-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya. Namun, sayangnya seringkali hal itu tidak cukup membuat kita manusia untuk mau mendongak keatas, mengingat kebesaran-Nya, menengadah kepada-Nya, mengagungkan nama-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya.Karena itu, kadang-kadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalam an menyakitkan, seperti musibah, kegagalan, rasa sakit, kelaparan dan berbagai pengalaman menyakitkan lainnya untuk menarik perhatian manusia agar mau mendongak keatas. Menarik perhatian untuk mau menengadah kepada-Nya, menyembah kepada-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya. Dengan demikian, pengalaman-pengalam an menyakitkan yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan untuk menarik perhatian kita. Hendaknya hal itu membuat kita semakin mempererat hubungan dengan Allah atau "habl min Allah." Hendaknya hal itu mengajarkan kita untuk mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah, dan menyadarkan kita adalah makhluk-Nya yang sangat lemah dan tidak berdaya. Sahabat yang baik, sudah begitu banyaknya rahmat dan berkah Allah senantiasa mengalir setiap detiknya kepada kita semua manusia. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, memiliki kesehatan yang kita rasakan, kelengkapan panca indra yang menopang kehidupan kita, mendapatkan rejeki yang kita nikmati setiap hari, keluarga yang bahagia yang kita miliki dan lain sebagainya. Semua itu sesungguhnya adalah rahmat dan berkah dari Allah SWT yang tak ternilai harganya. Kini apakah Anda akan segera menengadahkan wajah kepada-Nya, ataukah menunggu Allah menjatuhkan "batu" kepada kita?SEMOGA BERMANFAAT!***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia dan Penulis Buku "The Art of Life Revolution" dan Buku "Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani Menuju Kehidupan Penuh Potensi"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-2460515814695000960?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/2460515814695000960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=2460515814695000960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2460515814695000960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2460515814695000960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/jika-tuhan-menarik-perhatian-kita.html' title='JIKA TUHAN MENARIK PERHATIAN KITA'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-4428827733049583684</id><published>2008-08-24T22:12:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T22:21:37.577-07:00</updated><title type='text'>PERUBAHAN IKLIM, PECUT BUDAYA</title><content type='html'>Buang Hamburger dan Sate dariPiringmu, Jadilah VEGETARIAN&lt;br /&gt;Kerikil kecemplung kolam, kecipaknya sampai kemana. Di dunia ini, memulai sesuatu yang baik dan benar tak perlu bombastis mayoritas. Taruh kata soal perubahan iklim, lantaran efek rumah kaca sampai pemanasan global,khalayak sudah tahu penyebabnya perangai manusia rakus, dari masalah energi,industri,kendaraan sampai pola makan. Para pakar pun tahu dan bicara,penyebabnya bukanhanya karbon dioksida (CO2) namun juga metana dan gas-gas lain yang melentingke angkasa, akibat ulah manusia. METANA malah berpuluh kali lipat lebih parah akibatnya dari pada karbon dioksida. Dan ibarat lingkaran setan, panas mencairkan es di kutub, iklim kacau-balau, taifun banjir dan kekeringan menghunjam bersamaan laiknya. Lagipun di samudera muncul gelembung-gelembung gas metana dari perubahan kimia organisme didalamnya, kecil-kecil tetapi sebumi, akibatnya supradahsyat. Gas METANA (CH4) juga diproduksi (kimia hasil samping dan limbah) besar-besaran dari PETERNAKAN, bidang penyangga konsumsi manusia yang makin buas karnivor, makan daging. Jelas, bila manusia cukup bernalar, peternakan apalagi yang oleh perusahaan-perusahaan besar,niscaya ditekan, kalau perlu dihilangkan dari peradaban manusia. Bukan hanya metana,tetapi peternakan pun merupakan biang sumber gas pencemar HIDROGENSULFIDA (H2S)dll. Kontribusinya atas merosotnya kualitas lingkungan sangat mengerikan.Banyak sekali sumber ilmiah dapat dirujuk, misalnya dari internet dan pernyataan para pakar/lembaga ilmiah bonafide.Tetapi manusia lebih sering sulit berubah, barangkali karena semacam karma kebejatan sejak setua zaman Adam-Hawa laiknya. Mana mudah menghentikan peternak raksasa, kecuali bila diperkecil pasarnya? Konsumen daging niscaya makin dikurangi, bila tidak diprediksi tahun 2012 akan tiba bencana dahsyat di bumi tak terperi. Kengerian nan tak terbalikkan, melebihi bencana zaman Nuh boleh jadi.Begitulah kini makin banyak kalangan mempromosikan pola makan VEGETARIAN yang sejatinya berakar dalam di berbagai budaya manusia, namun kini ditinggalkan akibat gaya hidup 'modern'-keblinger ala hamburger satepizza itu.Manusia spiritual religius, elite yang sadar martabat bahwa membunuh itu jahat,sudah lama sadar bahwa Sang Pencipta pun sudah ogah korban bakaran, namun pengorbanan diri dan hidup, sebagai tanda manusia tercerahi. Sangat kental di kalangan Budhis dan Kristiani, mungkinpun Muslim dan Hindu, tetapi juga berbagai agama-tradisi timur lainnya. Di berbagai negara kini makin nyata bahwa berlipatgandanya penyakit yang mematikan, ternyata tersangkut pada pola makan daging. Dari obesitas, jantung, kanker dan penyakit degeneratif,tetapi juga penyakit lain seperti daging sapi gila yang ramai diprotes di Korea dan Jepang itu (Australia, Amerika, adalah pengekspor daging ternak raksasa dunia). Dunia makin memahami nilai semboyan : GO VEG, BEGREEN, SAVE OUR PLANET. Begitulah belum lama ini di Los Angeles, California, oleh kelompok supreme-master ChingHai diadakan KonferensiInternasional Perubahan Iklim, dengan benang merah ke vegetarianisme selaku solusi. Pembawa acaranya Jane Velez-Mitchell, pemenang Emmy Awards (TVjournalist, presenter, author/writer) . Ujarnya lirih di sela-selapengantar: ibu pertiwi sudah makin bosan lihat manusia pada makan daging, bung! Dulu zaman purba manusia berburu hanya untuk kebutuhan perut, karena belum tahu pertanian,tetapi kini di millenium ketiga, akibat kerakusan dan mesin cetak uanglah peternakan itu. Ternak dikasih makan hanya demi nantinya dibunuh, ini beradab atau biadab ya ? Pasar pemakan daging ditiupi dan dikobarkan, agar korban penyakit makin berjatuhan, dan uang masuk deras, ternak makin berjuta bergilird iembat nyawanya. Para peternak besar memang absurd. Industri perdagingan karnivora sungguh melawan bumi, melampaui batas kehendak Sang Khalik. Para TOKOH DUNIA ADAB sudah saatnya bangkit! Acara konferensi diawali tayangan Dendang Lagu Kuno Indian, dengan iringan musik tradisionalnya. Menggambarkan dinamika harmoni bumi-matahari- air. Begitu memukau, dengan paduan warna merah-putih. Diantara liriknya terdengar :...&lt;em&gt;I pray for peace, help one another&lt;/em&gt;.....Pembicara pertama wakil UNEP(Program Lingkungan Hidup PBB) Ashok Khosla, tokoh gaek sejak Club ofRome,juga vegetarian dan pimpinan badan Pembangunan Alternatif. Makan daging,ujarnya, berdampak buruk pada lingkungan. Setengah pertanian AS adalah peternakan, produksinya &lt;em&gt;beef&lt;/em&gt;. Dan daging berdampak empat kali picu kanker. Bila masyarakat tak makan daging, cadangan dan penggunaan BBM pun dihematbesar-besaran. Bumi damai makin tergapai. Benar juga : &lt;em&gt;peace begins onyourplate&lt;/em&gt;, damai berbiang di piringmu! Berikutnya, giliran walikotaHollywood Barat : Jeffrey Prang, juga seorang vegetarian, mengaku pendukung Obama terpilih November nanti agar Januari 2009 dilantik menjadiPresiden. Kita sudah tahu ada apadi lingkungan kita, maka kita tak usah berdebat. Yang penting ubah pola makan. Jangan lagi makan daging gila-gilaan ala Amerika yang dirundung obesitas dan penyakit kini. Bertobatlah. Dengan masyarakat mengubah pola makan menjadi vegetarian, bisa tiga per empat gejala pemanasan global direm!Bangunlah dunia dari keblingeran gila nafsu makan daging ini! Ingatlah, makan daging merusak diri, peradaban, lingkungan, hanya menguntungkan pemodal peternakan besar kaya-raya yang rakus bin biadab.Sudah terlalu banyak para tokoh meneriakkan kewaspadaan lingkungan bumi yang kian parah dan renta. BanKiMoon (sekjen PBB), P.Charles, AlGore,M.Gandhi,James Hansen (ilmuwan NASA), Kofi Anan, Jose.M.Barosso, K.Livingston,Swarzenegger,Condoreeza, G.Bush, Y.Boer, RajendraPatchauri, M.Bloomberg, D.Miller (walikota Toronto), HauLung (walikotaTaipei),DalaiLama dan bergerbong lainnya, tetapi kenapa masih gila jugamanusia ? Makaperlu diubah, secara rohani. Bukankah : spiritual health means socialharmony ?Angkat bicara pula Dr.Will Tuttle, tokoh pengagum ChingHai sejakberdasawarsa lampau, dan bulat tekad ingin menjadi mujizat-hidup berpola rahib Kristiani-Budhis: menjadi vegetarian. Yang diperlukan dunia kini adalah makin banyaknya teladan hidup, yang membawa kebaikan-kebenaran, yang menyebarkan Kasih, pergiberdarmabakti ke wilayah-wilayah bencana dan perang, mencerahi jiwamanusiamelalui tulisan dan media elektronik. Langkah menjadi vegetarianadalah langkahkecil namun lompatan besar : immanently practical, trancendentallyspiritual!Kita tahu bahwa pola hidup kita keliru, maka ubahlah sebelum makinterlambat.Go Veg, Be Green.Lain lagi cowboy gaek HowardLyman. Dia mantan pengusaha besar kaya-raya soal perdagingan yangdisuguhkanbuat disantap manusia keblinger, manusia yang langsung tak-langsungmembunuhisaudara sepenghuni-bumi yang disebut hewan ternak sesama mahluk Tuhan itu.Setelah bertobat dari bisnis produk daging, ia menulis buku : Voicefor a ViableFuture. Saya dulu rancher top di USA,tetapi saya mengalami pencerahan, pertanian Amerika yang bertopangpeternakanseparoh ini sungguh tidak lestari, tak akan berkelanjutan, tak-sustainabledalam kerangka lingkungan. Kita kini dihadapkan pada dunia yang dilandakemiskinan dan kelaparan (walau segelintir berfoya-mewah) :mengatasinya adadua opsi, menambah tanah-ternak- tanaman-piranti- pupuk kimia, ataumenggencarkanpertanian organik. Saya dulu tercerahi ketika mengamati para ternakmogok takmau digiring ke penjagalan! Akhirnya saya lepas bisnis peternakanbesar saya,bahkan saya kemudian ikut kesadaran global : Go Veg Be Green, saya jadivegetarian. Maafkan bila gayasaya seperti kesaksian kanak-kanak. Tetapi sungguh hentakan spiritual sayaalami, dan saya lompat dari bisnis menggiurkan namun biadab itu.Kemudian Betzka Burr, CEOEcofood-print. Dikatakannya : sudah saatnya produk daging dikenaiPAJAK KARBONtanpa dalih lagi. Itulah bukti pemerintah bijaksana yang bertanggungjawabterhadap publik maupun kemanusiaan. Peternakan sudah makin terbuktimerusakkemanusiaan, peradaban, bahkan lingkungan hidup. Bukan sekedartemperamen-emosiberubah mudah berkobar pada manusia pemakan daging, tetapi kini terbuktimerupakan biang hancurnya lingkungan, perubahan iklim, mudarat bagi dunia!Produk daging juga harusmulai dikenai wajib LABEL, jangan lagi boleh menggunakan obat, antibiotiksampai hormon. Peternakan harus diawasi ketat, karena daging begitulahpemicusegala penyakit kanker sampai diabetes dan berbagai penyakit fatallainnya.Makan daging adalah jahat sekaligus konyol. Protein hewani, dibandingkanprotein nabati, ternyata lebih memicu kegemukan, kanker dll. Buangisaja, bakar dankubur semua HAMBURGER dan sate yang selama ini dengan semangat kitasantap! Sadarkahkita, untuk hamburger, warga negara mensubsidi, kita semua dipajakigara-garahamburger, 12 dollar. Gila! Gara-gara sepotong hamburger juga, BBMkita makinmelejit kebutuhannya, kita impor BBM. Hamburger sangat merugikan :dari safety(bagi kesehatan) maupun security (energi nasional BBM). Yang pasti,industripeternakan, yang menyediakan daging di piring warga, adalah serigalaberbuludomba. Mereka menangguk dollar, sementara warga kelojotan kankerdiabetes gemukdan BBM makin naik harganya. Ini tidak fair, ini menghancurkan bumi danperadaban. Mari galakkan kampanye negatif bagi hamburger dan dagingyang ada dipiring! Marilah sadar dan bertobat, bila kita hendak mengaku beradab.Menjijikkan, perut kita, tubuh kita, kita masuki bangkai korban mahluklantarankejamnya jagal ternak. Kita masukkan racun, maka penyakitlah buahnya.Semogayang mendengar dan melihat menjadi sadar, ubahlah pola makan, jadilahVEGETARIAN. Para tokoh berilah teladan bagi konstituen dan masyarakatmu.Apalagi mengaku spiritual, religius, tetapi makan daging, karnivora,sungguhtepat SERIGALA berbulu domba! Serigala dan hyena kan berebut denganmacan singamemperebutkan santapan bangkai! Ya Tuhan ampunilah karena mereka taktahu yangmereka perbuat. Maka dengan ini saya memberitahu, agar semua orang makinbertobat. Tak bagus mengundang kiamat dini...karena lingkungan yangterdera.Jangan lagi menginjak restoran hamburger atau daging lainnya yangmenyembunyikan wajah setan aslinya, yang`serakah duit dan nyawa.Bertobatlahkonsumen dan pebisnisnya, sekarang juga. Para ilmuwan dan politisi,sadarlahtugas dan tanggungjawabmu : bela masyarakat dan lingkungan, dengan nuranibersih.Disusul pembicara lain : Dr.Jim Stewart, wakil ketua Global warming forSierra Club (LA Chapter). Diantaranya ia berujar : saya inginkemukakan soalkrisis air! Kekeringan di satu pihak, banjir bandang di loka lain. Situasibegini memicu pula kebakaran hutan. Kita pun harus makin mendukungVegetarianisme serta PERTANIAN ORGANIK. Pertanian organik adalah penangkapkarbon lebih bagus. Kita bersyukur UU no.32 California sudah mengaturtargetsampai 2020. dan apabila pemerintah AStak mau mulai MENGHAPUS PERTANIAN, kita perlu selidiki apakah inigara-garapermainan uang ? Para pakar dan media massa dituntut peka membawakan suaramoral publik dan lingkungan.Professor Ryan Galt, dari Agricultural Sustainability Institute,Universitas California di Davis, berkata : untuk 3 milyar manusia di bumi,sebenarnya makanan itu cukup. Biangnya adalah DAGING, alias peternakan.Bayangkan, di peternakan, asupan 16 kg pakan dan biji-bijian bagi ternak,hasilnya 1 kg daging. Belum lagi dihitung pemrosesan, transport,pendinginandll.Artinya, akar kemiskinan (poverty) adalah ketidakbijaksanaanpengaturanenergi-pangan. Yang masuk ke peternakan sudah overblas, padahalsaudara-saudarakita manusia di bagian bumi lain kelojotan melarat kelaparan makannasi aking!Coba renungkan secara jujur. Hal serupa terjadi di berbagai negara(termasuknegara berkembang) : kesembronoan dan ketidakadilan (termasuk KORUPSI)adalahakar segala keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, kemelaratan,kelaparan. Inisungguh tugas moral bagi politisi. Jangan mereka bersorak diatasbangkai ternakdan rakyat! Jadi benarlah, satu cara yang sungguh NOBLE_COMPASSIONATE -LIFEadalah menjadi VEGETARIAN. Inipun dicanangkan AlGore di Austin Texasmedio Julilalu dalam rangka kampanye bagi Obama. Bila BUSH enggan meminggirkanpeternakan, kita mesti bertanya ada apa dengan Partai Republik ini, bukan(suapan peternak raksasa) ? Membela peternakan, atas pajak rakyat ?Kita jugamesti makin jeli menyaksikan berbagai pemerintahan dan negeri yang bergauldengan kita. Jangan Amerika mendukung pemerintahan yang berkhianatpada publik,kemanusiaan dan lingkungan. Para pakar dan ilmuwan, apalagi para politisi,harus makin jujur pada dirinya. Katakan yang benar sebagai benar, yangsalahitu salah. Itulah asas demokrasi, juga budaya ilmiah, serta keadabanmanusiawi,paling mendasar. Jangan lagi ada patgulipat telikungan kebenaran, ingatlingkungan bumi kita sudah kritis! Terasa vokal menohok juga pakProfessor yangteruna-belia ini... Itulah kebenaran, jangan lagi ada dusta bila inginsamaselamat.Dr.Trish Kenneth, pakar ilmuwan ini berkata : orang berIQ tinggi cenderungVEGETARIAN. BE VEG IS SMART. Seperti dituturkan ChingHai juga : mengatasilingkungan yang porak-poranda berubah iklim ialah dengan Go Veg(vegetarian) ,pakai kendaraan dan rumah hemat energi, tempuh dan pakai sumber energiterbarukan (angin, surya, air dsb), selain juga berdoa dan bekerja,ora-et-labora lebih baik, demi peradaban manusia dan lingkungan bumi ibupertiwi kita, sekaligus memuliakan Sang Pencipta. Acara konferensi itu berlanjut dengan tanya-jawab dan diskusi. Tak perlurincinya disini, sebab bisa dilihat dengan KLIK www.suprememasterTV .comYang jelas, bencana lingkungan sudah didepan mata, dan tiap hari kitadengar saksikan berlangsung dimana-mana. Simakan ilmiah menunjukkan faktorpemicunya jelas gas-gas dari peternakan, dan dampak serta konsekuensiberantaiindustri daging konsumsi manusia lainnya. Lepas dari soalspiritual-religiussaja, hal ini sudah mengharuskan kita berpikir dan renung. Apakah kitasudahcukup punya etik-moral, apakah kita juga terpanggil mulai setidaknyaMENGURANGIKONSUMSI DAGING, dan bergeser ke sayur-mayur serta buah-buahan dankacang-kacangan, biji-bijian, sebagaimana juga telah dituturkan dalamKitabSuci berbagai agama ? Ataukah kitatetap bebal bejat mempertahankan kebiasaan memangsa potongan bangkaiternak dipiring dan menelannya seakan-akan badan kita itu tong sampah ?Karmanya amatnegatif (bad-retribution) !Marilah tercerahi bagi yang berhati nurani. Sayangilah sesama mahlukciptaan Tuhan. Berpikirlah secara jernih-logis atas lingkungan burukakibatpola makan DAGING (hamburger, sate dll) yang sebenarnya diplot untukpredator-karnivora ? Manusia memang pemakan segala (OMNIVORA), tetapikalautidak terpaksa, dan masih banyak pilihan SMART-ELITE- ILMIAH-MORALjenis dan polamakan lain, mengapa tetap kopig-kepalabatu memamah DAGING yang jelasmerugikankesehatan, lingkungan, maupun ekonomi-energi negara, sertaanti-keadilan karenamasih banyak jutaan orang kelaparan tiap hari ? Kalau kita beradab(apalagimengaku beragama, agama apapun) sudah jelas apa yang mesti kita lakukan,bersama-sama dan masing-masing.Sungguh benar : GO VEG, BEGREEN, SAVE OUR PLANET.Jangan orang Indonesia,yang dari sononya dicetak makan KARBOHIDRAT, lalu sok mau jadikarnivora makanDAGING. Padahal di negara-negara lain, bahkan bule sampai arab pun, makinmengurangi makan daging sebab ingin lebih beradab, sadar bahwa telahkeblingerlama. Makandaging konon dikata berkarma buruk, dan karma ibarat tangan takdir padasaatnya.OK bila belum bisa VEGETARIANtotal, setidaknya kurangi daging, ganti dengan ikan, tahu tempe danberbagai makanan lezat lain. Kalauterpaksa, beli DAGING-VEG yang aspal padahal bukan daging asli namun daribiji-bijian di resto Vegetarian (sedikit mahal ya risiko) agar tetapdan makinSEHAT. Apapun agama keyakinan anda, sebagai manusia berbudaya dan beradabmanusiawi, sadar lingkungan, dan memuliakan Sang Pencipta, mulailahPANTANG danakhirnya TOTAL JANGAN MAKAN DAGING. Kesadaran MORAL melintasi anekaAGAMA danpemeluknya. Mulai usahakan buang jauh-jauh DAGING HEWANI dari hidangankita.Selamatkan bumi, berusaha jadilah vegetarian sekarang. Jadilah hijau,selamatkan bumi. Salam! ***PostScriptum : Bila hendak memahami berbagai KUTIPAN AYAT dukunganVEGETARIAN semua kitab-kitab suci agama-agama di dunia, silakan klikke situsSupremeMasterTV. Jangan tunda lagi, hindarkan mulut-perut kita darikemasukanhidangan (bangkai) DAGING TERNAK yang dibunuh berdasarnafsu-rakus- ketamakantergila-gila uang. Sayangilah sesama mahluk ciptaan Tuhan, penghuni(CO-INHABITANT) bumi satu yang indah ini. Mulailah bersiap menghapusbuasnya PETERNAKANdari khasanah PERTANIAN kita....Lembaga-lembaga seperti WALHI, YLKI, ormas religius/spiritual, generasimuda, mungkin juga kalangan agama sampai partai, kiranya makin memahamipenting-perlunya KAMPANYE PILIHAN MORAL yang benar. Bila konsekuen, yangharam tak cuma rokok, namun MAKAN DAGINGhewan karena dampaknya lebih mengerikan. Tanyai calon pemimpin dalamPILKADAdan PEMILU, apakah mereka Vegetarian dan tahu segi moral buruk makandaging,dan bahwa Peternakan itu MEMBOROS ENERGI maupun pangan padahal masihbanyak saudara kelaparan, sertamenggasak LINGKUNGAN, bukan ? Jangan pilih calon yang tak paham MORALaktual.....Asal dicamkan, PETERNAKAN yang dimaksud dalam tulisan ini adalahpeternakanBESAR, jadi BUKAN mesti termasuk PETERNAKAN RAKYAT gurem kecil-kecilyang takterlalu berdampak buruk bagi lingkungan hidup dan pemanasan globalkhususnya. +++&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-4428827733049583684?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/4428827733049583684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=4428827733049583684' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/4428827733049583684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/4428827733049583684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/perubahan-iklim-pecut-budaya.html' title='PERUBAHAN IKLIM, PECUT BUDAYA'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-6728268604078697829</id><published>2008-08-24T22:10:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T22:12:19.623-07:00</updated><title type='text'>JANGAN 'PERNAH' BOHONG SAMA ANAK KECIL</title><content type='html'>Seorang pemuda bule yang sedang mabuk, berjemur dipantai tanpa busana sama sekali. Ketika dia melihat seorang anak gadis kecil seusia 7 tahun berjalan melewatinya, dia menutup bagian tubuh tertentu dengan koran yang sedang dia baca. Karena heran, anak gadis kecil itu berkata : "Apa sih yang Oom tutupi dengan koran itu ?" tanya gadis kecil itu polos sambil menunjuk koran. Karena malu, pemuda itu menjawab : "Ah tidak ada apa-apa. Itu hanya seekor burung pipit" "Seekor burung pipit ?" tanya gadis itu penasaran. "Betul, hanya seekor burung pipit," jawab pemuda itu. Setelah gadis kecil itu pergi berlalu, si pemuda kembali membaca koran sambil menenggak bir-nya. Dan tak lama kemudian, si pemuda tertidur. Ketika terbangun, Pemuda tersebut berada di rumah sakit dan merasa nyeri yang amat sangat. Seorang polisi menanyainya : "Apa yang terjadi ?" "Saya tidak tahu. Saya sedang berjemur di pantai, lalu ada gadis kecil menanyai saya sebentar dan tidak lama setelah dia pergi, saya tertidur dan kini tiba-tiba berada di sini." Polisi itu pergi ke pantai mencari gadis kecil dan bertanya : "Apa yang kamu lakukan terhadap lelaki yang sedang berjemur ?" Gadis kecil itu menjawab : "Saya tidak melakukan apa-apa terhadap Oom itu. "Cuma waktu dia tidur, saya main dengan burung pipit miliknya tapi..... tidak lama kemudian, burung itu meludahi muka saya, karena itu saya patahkan leher dan paruhnya, saya pecahkan telur-telurnya dan saya bakar sarangnya !"&lt;br /&gt;............ .. sereeeeemmmm. ......... .........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Best Regards, &lt;br /&gt;M. Sanusi-Sales Department&lt;br /&gt;P.T. KANEFUSA INDONESIAMANUFACTURER OF INDUSTRIAL MACHINE KNIVES&lt;br /&gt;EJIP Industrial Park Plot  8D Cikarang Selatan, Bekasi 17550 Jawa Barat, IndonesiaPhone : (021) 8970360, Fax.: (021) 8970286-8970287, E-mail : &lt;a href="http://id.f761.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=sanusi@kanefusa.co.id" target="_blank"&gt;sanusi@kanefusa. co.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-6728268604078697829?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/6728268604078697829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=6728268604078697829' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6728268604078697829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6728268604078697829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/08/jangan-pernah-bohong-sama-anak-kecil.html' title='JANGAN &apos;PERNAH&apos; BOHONG SAMA ANAK KECIL'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-4768276439056864533</id><published>2008-07-08T21:38:00.000-07:00</published><updated>2008-07-08T21:40:09.728-07:00</updated><title type='text'>Apakah Kesuksesan Selalu Berkorelasi Dengan Uang?</title><content type='html'>Anda orang yang sukses? Jika ya. Berarti anda banyak uang. Setidaknya, begitulah yang ada dalam benak begitu banyak orang. Seseorang layak disebut sebagai orang sukses jika memiliki banyak uang. Jika uang yang dimilikinya tidak banyak, rasanya janggal mengait-ngaitkan orang itu dengan sebuah kesuksesan. Sewaktu saya masih kecil, guru ngaji saya mengatakan bahwa; "orang kaya itu sungguh beruntung," katanya. "Karena, dengan kekayaannya, dia bisa menjadi manusia yang banyak memiliki pahala. Sebab," lanjut beliau. "Dengan kekayaannya itu, dia bisa berbuat begitu banyak kebajikan." Kekayaan bisa membantu manusia menuju tempat terhormat disamping singasana Tuhan, kelak ketika mereka kembali kepada jati diri sesunggunya sesudah mati. Dengan kata lain; orang kaya itu enak didunia dan enak juga diakhirat. Tetapi, benarkah selalu demikian?Dalam pelajaran hari selanjutnya, pak guru mengatakan bahwa: "orang kaya itu sungguh merugi," katanya. "Karena, dengan kekayaannya dia bisa menjadi manusia yang banyak memiliki dosa. Sebab," lanjut beliau. "Dengan kekayaannya itu, dia bisa berbuat begitu banyak kesalahan." Jadi, menjadi kaya itu sebenarnya baik apa buruk? Beliau bilang; 'menjadi kaya dengan cara yang baik adalah baik, sedangkan menjadi kaya dengan cara yang buruk adalah buruk'. Oh, jadi kaya bukanlah ukuran baik atau buruk, melainkan; bagaimana cara dia menjadi kayalah penentunya. Seseorang yang memandang kekayaan semata sebagai ukuran sebuah keberhasilan mempunyai peluang untuk terjerumus kepada konsepsi yang salah. Bahwa hidup ini is all about being rich. Sedangkan 'bagaimana caranya' seringkali terabaikan. Oleh karena itu; tidaklah mengherankan jika begitu banyak orang yang silau dengan kekayaan seseorang, tanpa mempedulikan 'bagaimana' orang itu sampai kepada pencapaian material itu. Sehingga, manusia-manusia yang melakukan segala cara untuk mendapatkannya tetaplah dianggap manusia bermartabat dan terhormat. Repotnya lagi, lingkungan kita yang terlanjur hedonis ini seringkali mencibiri orang-orang yang memiliki uang pas-pasan, meski mereka senantiasa menjaga dirinya dari tindakan-tindakan tak terpuji. Kadang-kadang mereka dianggap manusia terbodoh didunia. "Memiliki kesempatan kok tidak dimanfaatkan, " begitu kita seringa berkata. Itulah sebabnya, banyak orang baik terseret oleh arus sesat seperti itu. Sebab, kekayaan memberikan banyak kenyamanan. Siapa sih yang tidak ingin hidup nyaman?Dihari lain guru mengaji saya bilang bahwa:"orang kaya itu paling cepat menjalani pemeriksaan diakhirat," katanya. "Karena, buku penilaian malaikat dipenuhi laporan daftar kebajikan yang pernah diperbuatnya semasa hidup. Sehingga," lanjut beliau. "Dengan sejumlah kebajikan itu, mereka layak mendapatkan tempat disorga Tuhan." Lagipula, mengapa Tuhan harus membiarkan orang-orang baik terlalu lama menunggu untuk itu? Dihari lain guru mengaji saya bilang bahwa:"orang kaya itu paling lambat menjalani pemeriksaan diakhirat," katanya. "Karena, dalam pemeriksaan itu; Tuhan mempertanyakan setiap jenis kekayaan yang dimilikinya. Semakin banyak kekayaannya, semakin panjang daftar periksa dan pertanyaan yang Tuhan ajukan. Sehingga," lanjut beliau. "Orang yang paling kaya, paling lama diperiksa." Konon pertanyaan Tuhan tentang kekayaan seseorang hanya dua macam. Yaitu, pertama; bagaimana caranya dahulu kamu mendapatkan kekayaanmu itu? Dan kedua, bagaimana caranya kamu membelanjakan kekayaanmu itu? Untuk pertanyaan pertama, Tuhan hanya mengharapkan sebuah jawaban yang menegaskan bahwa seseorang mendapatkan kekayaannya dengan cara yang benar. Bukan dengan mengambil hak orang lain. Atau merugikan pihak lain. Atau menindas. Menipu. Memanipulasi. Atau mengemplang hutang sambil berfoya-foya. Jadi, orang-orang yang sengaja berutang kemudian berpura-pura bangkrut padahal rekening kekayaannya ada dimana-mana tentu sulit untuk membohongi Tuhan. Dan orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan tentu akan kebingungan ketika harus berhadapan dengan Tuhan. Sedangkan, untuk pertanyaan kedua Tuhan hanya mengharapkan sebuah jawaban yang menegaskan bahwa seseorang menggunakan kekayaannya untuk berbuat kebajikan. Bukan menindas dan memperbudak orang lain. Atau memperalat. Atau menjajah manusia lain. Selintas, pelajaran-pelajaran ini seolah agak saling bertolak belakang. Namun, jika semuanya dikombinasikan ternyata menjadi sebuah pelajaran yang sederhana. Dan pelajaran itu berbunyi; "Kekayaan yang didapatkan dengan cara yang baik, dan dibelanjakan dijalan yang baik akan menjadikan hari esok seseorang lebih baik. Sedangkan, kekayaan yang didapatkan dengan cara yang buruk atau dibelanjakan untuk hal-hal yang buruk; pasti menjadikan hari esok seseorang sangat buruk." Oleh karena itu, kesuksesan seseorang lebih banyak ditentukan oleh bagaimana cara dia menjalani kehidupannya; bukan kekayaannya. Sebab, orang-orang yang menghabiskan umurnya untuk menemukan restu Tuhan, tentulah orang-orang yang sukses itu. Meskipun orang itu tidak kaya. Karena Tuhan pastilah tidak mata duitan. Jadi, meskipun jumlah uang orang itu tidak melimpah ruah; Tuhan pasti suka kepadanya. Sedangkan, orang-orang yang dalam hidupnya memancing-mancing kemarahan Tuhan, tentulah bukan orang-orang yang sukses itu. Meskipun orang itu kaya. Sebab, Tuhan tidak selalu melihat hasil akhir, melainkan proses perjalanan orang itu untuk mencapai akhir hidupnya. Jadi, meskipun jumlah uang orang itu melimpah ruah; Tuhan belum tentu suka kepadanya. Sebab, jika uang itu didapatkan, dan dibelanjakan dengan cara yang tidak disukai Tuhan; pastilah tidak ada nilainya dimata Tuhan.Kekayaan bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan. Sebab, menghubungkan kesuksesan seseorang dengan jumlah uang yang dimilikinya; sama saja dengan merendahkan martabat orang itu. Itu berarti bahwa kita lebih menghargai uangnya dari pada nilai kemanusiaannya. Karena, jika kita mengukur keberhasilan seseorang dari uangnya, maka kekaguman kita terhadap orang itu akan dengan serta merta luntur tepat disaat kita mengetahui bahwa 'ternyata, orang itu tidak sekaya yang kita kira....' Lebih berbahaya lagi jika cara berpikir seperti itu akhirnya mendorong orang untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji. Hanya gara-gara kita menganggap mereka banyak uang, lalu mereka berusaha untuk membenarkan dugaan kita dengan cara yang salah. Saya pernah membaca dikoran, seorang manusia terhormat berkata; "Bagaimana saya tidak berusaha keras mencari uang? Wong setiap organisasi masa yang datang ke rumah saya selalu meminta sumbangan. Mereka pikir saya punya banyak uang. Mana percaya mereka, kalau saya katakan tidak punya uang? Jadi, saya kasihlah mereka itu uang." Mengenaskan, bukan? Mari kita berhenti untuk menjadikan jumlah uang dan kekayaan sebagai ukuran keberhasilan. Sehingga kita bisa lebih berfokus kepada tindakan-tindakan yang positif. Dan terhindar dari menghalalkan segala cara untuk sekedar mendapatkan uang yang banyak. Jika anda terpilih menjadi karyawan teladan di perusahaan. Meskipun pendapatan anda pas-pasan; jangan ragu untuk menyebut diri anda orang sukses. Dan percayalah, tidak ada gunung yang terbentuk begitu saja. Dia tumbuh dari anak gunung menjadi gunung besar yang menjulang. Begitu pula dengan kesuksesan. Sekecil apapun, itu akan menjadi bibit bagi kesuksesan besar anda dimasa mendatang. Itu jika anda tidak tersilaukan oleh uang. Sebab, jika uang menjadi segala ukuran kesuksesan anda; maka anda tidak akan segan untuk melakukan cara apapun agar bisa mendapatkannya. Kita tidak usah malu untuk mengakui bahwa uang kita tidak banyak. Jika kita bisa mandiri. Tidak menjadi benalu bagi orang lain. Maka nilai kesuksesan kita sama sekali tidak berkurang.&lt;br /&gt;Catatan kaki:Jika kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang; sekalipun uang kita menjadi banyak, rasanya kita tidak layak untuk disebut sebagai orang sukses.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-4768276439056864533?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/4768276439056864533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=4768276439056864533' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/4768276439056864533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/4768276439056864533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/07/apakah-kesuksesan-selalu-berkorelasi.html' title='Apakah Kesuksesan Selalu Berkorelasi Dengan Uang?'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-2800391432096870474</id><published>2008-07-08T01:59:00.001-07:00</published><updated>2008-07-08T01:59:37.313-07:00</updated><title type='text'>Jangan Baca jika Anda tidak Mencintai Ibumu!</title><content type='html'>Ketika ibu saya berkunjung, Ia mengajak sayauntuk Berbelanja bersamanyakarena dia membutuhkan sebuah Gaun yang baru.Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain,Dan saya bukanlah orang yang sabar,tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun Wanita,Dan ibu saya mencoba gaun demi gaun Dan Mengembalikan semuanya.Seiring Hari yang berlalu, Saya mulai lelah Dan ibu saya mulai frustasi.Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi,Ibu Saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri Dari tiga helai.Pada blusnya terdapat sejenis tali di Bagian tepi lehernya, Dan karenaketidaksabaran saya, Maka untuk kali ini saya ikut masuk Dan berdiri Bersamaibu saya dalam ruang ganti pakaian,Saya Melihat bagaimana IA mencoba pakaian tersebut, Dan Dengan susahmencoba untuk mengikat talinya.Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh Penyakit radang sendiDan sebab itu dia tidak dapat Melakukannya,seketika ketidaksabaran saya digantikanOleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya.Saya Berbalik pergi Dan mencoba menyembunyikan air Mata Yang keluar tanpasaya sadari.Setelah saya Mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke Kamar gantiuntuk mengikatkan tali gaun tersebut.Pakaian ini begitu indah, Dan dia membelinya.Perjalanan belanja kami telah berakhir,Tetapi Kejadian tersebut terukir Dan tidak dapat terlupakan Dari ingatansaya.Sepanjang sisa Hari itu, pikiran Saya tetap saja kembali pada saat berada didalam Ruang ganti pakaian tersebut Dan terbayang tangan ibu Saya yang sedangberusaha mengikat tali blusnya.Kedua Tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi Saya, memandikansaya,memakaikan baju, membelai Dan Memeluk saya, Dan terlebih dari semuanya,berdoa untuk Saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya Dengan carayang paling membekas dalam hati saya.Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu Saya,mengambil tangannya, menciumnya ... Dan yangMembuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya Kedua tangan tersebutadalah tangan yang paling indah Di dunia ini.Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah Membuat saya dapat melihat denganMata baru,Betapa Bernilai Dan berharganya kasih sayang yang penuh Pengorbanan dariseorang ibu. Saya hanya dapat berdoa Bahwa suatu Hari kelak tangan saya Danhati saya akan Memiliki keindahannya tersendiri.Dunia ini memiliki Banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begituAgung,tetapi tak satu pun yang dapat menandingi Keindahan tangan Ibu...&lt;br /&gt;With Love to All Mother" JIKA KAMU MENCINTAI IBU MU KIRIMLAH CERITA INI KEPADA ORANG LAIN, AGARSELURUH ORANG DIDUNIA INI DAPAT MENCINTAI DAN MENYAYANGI IBUNYA "&lt;br /&gt;Note : Berbahagialah yang masih memiliki Ibu.Dan Lakukanlah yang Terbaik untuknya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-2800391432096870474?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/2800391432096870474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=2800391432096870474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2800391432096870474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2800391432096870474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/07/jangan-baca-jika-anda-tidak-mencintai.html' title='Jangan Baca jika Anda tidak Mencintai Ibumu!'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-4473591134856634516</id><published>2008-07-08T01:58:00.001-07:00</published><updated>2008-07-08T01:58:54.287-07:00</updated><title type='text'>Ohh Ibu</title><content type='html'>"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan&lt;br /&gt;penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut&lt;br /&gt;yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan&lt;br /&gt;nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah&lt;br /&gt;luar jendela rumah sakit.&lt;br /&gt;Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!&lt;br /&gt;Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh&lt;br /&gt;menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya&lt;br /&gt;saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas&lt;br /&gt;pulang ke Rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang&lt;br /&gt;menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan&lt;br /&gt;tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki&lt;br /&gt;besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."&lt;br /&gt;Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia&lt;br /&gt;pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di&lt;br /&gt;bidang musik dan menulis.&lt;br /&gt;Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah&lt;br /&gt;nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati&lt;br /&gt;ibu merasa kasihan dengannya. Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu&lt;br /&gt;dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya&lt;br /&gt;percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus&lt;br /&gt;ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter.&lt;br /&gt;Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau&lt;br /&gt;mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.&lt;br /&gt;Beberapa bulan sudah berlalu.&lt;br /&gt;Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang&lt;br /&gt;yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu.&lt;br /&gt;Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi.&lt;br /&gt;Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah. Operasi berjalan&lt;br /&gt;dengan sukses.&lt;br /&gt;Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu&lt;br /&gt;berubah menjadi kejeniusan.&lt;br /&gt;Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu&lt;br /&gt;kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia&lt;br /&gt;menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia&lt;br /&gt;mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar&lt;br /&gt;namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya. " Ayahnya menjawab,&lt;br /&gt;"Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah&lt;br /&gt;memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,&lt;br /&gt;"Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua&lt;br /&gt;rahasia ini."&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun.&lt;br /&gt;Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari&lt;br /&gt;tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan&lt;br /&gt;anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja&lt;br /&gt;meninggal.&lt;br /&gt;Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang&lt;br /&gt;terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah... bahwa sang&lt;br /&gt;ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang&lt;br /&gt;sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang&lt;br /&gt;pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"&lt;br /&gt;Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di&lt;br /&gt;dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa&lt;br /&gt;terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat.&lt;br /&gt;Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan&lt;br /&gt;diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Terima kasih untuk siapa saja yang telah menulis cerita indah ini -&lt;br /&gt;Editor)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-4473591134856634516?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/4473591134856634516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=4473591134856634516' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/4473591134856634516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/4473591134856634516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/07/ohh-ibu.html' title='Ohh Ibu'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-9135564512486637187</id><published>2008-07-08T01:54:00.000-07:00</published><updated>2008-07-08T01:57:23.463-07:00</updated><title type='text'>Fitrah Kemanusiaan</title><content type='html'>Ada yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1"&gt;dimengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_2"&gt;tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3"&gt;nilai&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_4"&gt;nilai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_6"&gt;kemanusiaan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_7"&gt;tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_8"&gt;kebersamaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_9"&gt;sesama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10"&gt;makhluk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_12"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13"&gt;persamaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_14"&gt;hak&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_15"&gt;selama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_16"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_17"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_18"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_19"&gt;melupakan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_20"&gt;Kehidupan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_21"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_22"&gt;putaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_23"&gt;waktu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_24"&gt;telah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_25"&gt;ditetapkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_26"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_27"&gt;kita&lt;/span&gt; agar &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_28"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_29"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_30"&gt;semakin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_31"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_32"&gt;tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_33"&gt;keagungan&lt;/span&gt; Yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_34"&gt;Mahasuci&lt;/span&gt;. Agar &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_35"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_36"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_37"&gt;semakin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_38"&gt;sadar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_39"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_40"&gt;memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_41"&gt;betapa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_42"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_43"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_44"&gt;membutuhkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_45"&gt;orang&lt;/span&gt; lain &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_46"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_47"&gt;bersama&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_48"&gt;sama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_49"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_50"&gt;mengisi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_51"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_52"&gt;melengkapi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_53"&gt;Orang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_54"&gt;kaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_55"&gt;membutuhkan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_56"&gt;miskin&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_57"&gt;begitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_58"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_59"&gt;sebaliknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_60"&gt;orang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_61"&gt;miskin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_62"&gt;membutuhkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_63"&gt;uluran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_64"&gt;tangan&lt;/span&gt; para &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_65"&gt;dermawan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_66"&gt;Orang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_67"&gt;pandai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_68"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_69"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_70"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_71"&gt;berdiri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_72"&gt;sendiri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_73"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_74"&gt;bantuan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_75"&gt;orang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_76"&gt;bodoh&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_77"&gt;begitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_78"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_79"&gt;sebaliknya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_80"&gt;Seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_81"&gt;presiden&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_82"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_83"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_84"&gt;dapat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_85"&gt;melaksanakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_86"&gt;roda&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_87"&gt;pemerintahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_88"&gt;jika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_89"&gt;rakyat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_90"&gt;kecil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_91"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_92"&gt;mendukungnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_93"&gt;Begitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_94"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_95"&gt;dengan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_96"&gt;terjadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_97"&gt;antara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_98"&gt;kita&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_99"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_100"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_101"&gt;sekadar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_102"&gt;menjalani&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_103"&gt;apa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_104"&gt;telah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_105"&gt;diri&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_106"&gt;Nya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_107"&gt;kehendaki&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_108"&gt;Apa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_109"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_110"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_111"&gt;miliki&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_112"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_113"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_114"&gt;orang&lt;/span&gt; lain &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_115"&gt;mampu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_116"&gt;memberi&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_117"&gt;sedangkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_118"&gt;apa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_119"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_120"&gt;orang&lt;/span&gt; lain &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_121"&gt;miliki&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_122"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_123"&gt;justru&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_124"&gt;mempunyai&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_125"&gt;Kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_126"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_127"&gt;memberi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_128"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_129"&gt;mengisi&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_130"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_131"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_132"&gt;melengkapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_133"&gt;meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_134"&gt;terkadang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_135"&gt;belum&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_136"&gt;sesuai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_137"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_138"&gt;apa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_139"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_140"&gt;kehendaki&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_141"&gt;Kemanusiaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_142"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_143"&gt;aliran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_144"&gt;rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_145"&gt;persaudaraan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_146"&gt;curahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_147"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_148"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_149"&gt;kasih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_150"&gt;sayang&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_151"&gt;serta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_152"&gt;jalinan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_153"&gt;kesucian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_154"&gt;hati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_155"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_156"&gt;kehalusan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_157"&gt;budi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_158"&gt;Kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_159"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_160"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_161"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_162"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_163"&gt;tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_164"&gt;itu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_165"&gt;maka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_166"&gt;sulitlah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_167"&gt;bagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_168"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_169"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_170"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_171"&gt;membenci&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_172"&gt;berat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_173"&gt;terasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_174"&gt;jika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_175"&gt;hati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_176"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_177"&gt;menyakiti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_178"&gt;perasaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_179"&gt;orang&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_180"&gt;enggan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_181"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_182"&gt;malu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_183"&gt;jika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_184"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_185"&gt;melakukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_186"&gt;keburukan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_187"&gt;Mengapa&lt;/span&gt;? Karena, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_188"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_189"&gt;benar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_190"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_191"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_192"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_193"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_194"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_195"&gt;kerendahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_196"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_197"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_198"&gt;hadapan&lt;/span&gt; Yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_199"&gt;Mahasuci&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_200"&gt;Kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_201"&gt;menyadari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_202"&gt;betul&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_203"&gt;kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_204"&gt;jiwa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_205"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_206"&gt;tiada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_207"&gt;mempunyai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_208"&gt;kekuatan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_209"&gt;apa&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_210"&gt;apa&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_211"&gt;hati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_212"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_213"&gt;begitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_214"&gt;hina&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_215"&gt;sedang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_216"&gt;jasad&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_217"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_218"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_219"&gt;ubahnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_220"&gt;bentuk&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_221"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_222"&gt;pantas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_223"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_224"&gt;dibanggakan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_225"&gt;Kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_226"&gt;hanyalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_227"&gt;manusia&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_228"&gt;maka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_229"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_230"&gt;ada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_231"&gt;gunanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_232"&gt;jika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_233"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_234"&gt;menganggap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_235"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_236"&gt;ini&lt;/span&gt; paling &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_237"&gt;mulia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_238"&gt;apalagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_239"&gt;berkuasa&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_240"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_241"&gt;atas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_242"&gt;langit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_243"&gt;ada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_244"&gt;langit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_245"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_246"&gt;siapa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_247"&gt;nomor&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_248"&gt;wahid&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_249"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_250"&gt;Tuhan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_251"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_252"&gt;mengetahui&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_253"&gt;Kebesaran&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_254"&gt;kedudukan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_255"&gt;kekuasaan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_256"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_257"&gt;kehormatan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_258"&gt;hanyalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_259"&gt;titipan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_260"&gt;namun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_261"&gt;mengapa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_262"&gt;justru&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_263"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_264"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_265"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_266"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_267"&gt;menjatuhkan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_268"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_269"&gt;rela&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_270"&gt;melakukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_271"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_272"&gt;saja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_273"&gt;asal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_274"&gt;dapat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_275"&gt;meraih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_276"&gt;jabatan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_277"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_278"&gt;kedudukan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_279"&gt;Persahabatan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_280"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_281"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_282"&gt;dihiraukan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_283"&gt;persaudaraan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_284"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_285"&gt;berlaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_286"&gt;jika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_287"&gt;mendatangkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_288"&gt;keuntungan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_289"&gt;meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_290"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_291"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_292"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_293"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_294"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_295"&gt;bicara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_296"&gt;atas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_297"&gt;nama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_298"&gt;kemanusiaan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_299"&gt;Sungguh&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_300"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_301"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_302"&gt;tiada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_303"&gt;rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_304"&gt;malu&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_305"&gt;mata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_306"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_307"&gt;hati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_308"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_309"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_310"&gt;tertutup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_311"&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_312"&gt;beragam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_313"&gt;bentuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_314"&gt;kehinaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_315"&gt;dunia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_316"&gt;Belajarlah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_317"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_318"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_319"&gt;bagaimana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_320"&gt;cara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_321"&gt;menghormati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_322"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_323"&gt;menghargai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_324"&gt;saudara&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_325"&gt;mencintai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_326"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_327"&gt;menyayangi&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_328"&gt;menjaga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_329"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_330"&gt;melindungi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_331"&gt;semampu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_332"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_333"&gt;bisa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_334"&gt;Mengerti&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_335"&gt;memahami&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_336"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_337"&gt;merasakan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_338"&gt;bukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_339"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_340"&gt;sekadar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_341"&gt;tahu&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_342"&gt;Berat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_343"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_344"&gt;kalau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_345"&gt;dipikirkan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_346"&gt;namun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_347"&gt;ketahuilah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_348"&gt;bahwa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_349"&gt;nilai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_350"&gt;kemanusiaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_351"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_352"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_353"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_354"&gt;dipikirkan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_355"&gt;apalagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_356"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_357"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_358"&gt;ide&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_359"&gt;cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_360"&gt;dilontarkan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_361"&gt;Nilai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_362"&gt;kemanusiaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_363"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_364"&gt;kehidupan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_365"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_366"&gt;sendiri&lt;/span&gt;, yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_367"&gt;mana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_368"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_369"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_370"&gt;menjalani&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_371"&gt;Nilai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_372"&gt;kemanusiaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_373"&gt;bukanlah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_374"&gt;jalan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_375"&gt;menuju&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_376"&gt;kehidupan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_377"&gt;melainkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_378"&gt;dirinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_379"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_380"&gt;bagian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_381"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_382"&gt;kehidupan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_383"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_384"&gt;sendiri&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_385"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_386"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_387"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_388"&gt;pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_389"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_390"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_391"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_392"&gt;selama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_393"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_394"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_395"&gt;hanya&lt;/span&gt; diam &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_396"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_397"&gt;melakukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_398"&gt;apa&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_399"&gt;apa&lt;/span&gt;, Karena, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_400"&gt;nilai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_401"&gt;kemanusiaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_402"&gt;bukanlah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_403"&gt;pelajaran&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_404"&gt;cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_405"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_406"&gt;dihafal&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_407"&gt;melainkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_408"&gt;dirinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_409"&gt;adalah&lt;/span&gt; guru. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_410"&gt;Nilai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_411"&gt;kemanusiaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_412"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_413"&gt;rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_414"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_415"&gt;tiap&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_416"&gt;tiap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_417"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_418"&gt;kita&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_419"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_420"&gt;selama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_421"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_422"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_423"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_424"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_425"&gt;genggaman&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_426"&gt;kesombongan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_427"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_428"&gt;keangkuhan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_429"&gt;selama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_430"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_431"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_432"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_433"&gt;berdaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_434"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_435"&gt;melawan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_436"&gt;kebencian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_437"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_438"&gt;kedengkian&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_439"&gt;maka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_440"&gt;selama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_441"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_442"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_443"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_444"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_445"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_446"&gt;pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_447"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_448"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_449"&gt;sebenarnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_450"&gt;makna&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_451"&gt;terdalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_452"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_453"&gt;nilai&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_454"&gt;nilai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_455"&gt;kemanusiaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_456"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_457"&gt;sendiri&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;दरी “&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_458"&gt;Khâdim&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_459"&gt;Komunitas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_460"&gt;Jalan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_461"&gt;Sunyi&lt;/span&gt;”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-9135564512486637187?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/9135564512486637187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=9135564512486637187' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/9135564512486637187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/9135564512486637187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/07/fitrah-kemanusiaan.html' title='Fitrah Kemanusiaan'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-6560487704751503735</id><published>2008-07-08T01:51:00.000-07:00</published><updated>2008-07-08T01:53:27.699-07:00</updated><title type='text'>WAKTU</title><content type='html'>Rekans, Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat yaa॥Semilidetik Untuk Meraih EmasJika setiap pagi bank memberi anda pinjaman uang sebesar Rp. 86400,- bebas untuk digunakan hanya pada hari itu saja, apa yang anda lakukan? Pastinya anda akan memanfaatkan uang itu sebaik-baiknya sebelum hari itu berakhir। Daripada hangus begitu saja, ya kan?Kita semua memiliki bank seperti itu, namanya WAKTU. Setiap pagi, ia akan memberi anda pinjaman 86.400 detik yang akan hangus jika tidak digunakan pada hari itu juga. Tidak ada waktu tambahan dan tidak ada juga “uang muka” untuk pinjaman esok harinya. Jadi, gunakan waktu anda sebaik-baiknya dan mulailah bertindak sekarang juga.Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang tidak naik kelas.Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematurAgar tahu pentingnya waktu SEHARI, tanyakan pada tukang bakso yang tidak bisa jualan hari ini.Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbangAgar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali perak cabang renang di Olimpiade&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-6560487704751503735?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/6560487704751503735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=6560487704751503735' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6560487704751503735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6560487704751503735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/07/waktu.html' title='WAKTU'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-4932988761324034272</id><published>2008-02-18T01:41:00.000-08:00</published><updated>2008-07-03T23:56:02.199-07:00</updated><title type='text'>Sinyal Handphone (Joke-3)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sinyal Handphone&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SG3I2vIoOoI/AAAAAAAAABI/jXn13JRZ7Hw/s1600-h/sinyal+hp..bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 113px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SG3I2vIoOoI/AAAAAAAAABI/jXn13JRZ7Hw/s320/sinyal+hp..bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219048385883421314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kamis, 17 Januari 2008 - 10:28 wib&lt;br /&gt;Muhammad Chandrataruna - Okezone&lt;br /&gt;Si Musro yang udik baru saja panen dan kemudian dia pergi ke kota. Dia sangat ingin membeli handphone. Maka ia pergi ke counter hp.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Musrobb  : Mbak, saya mau beli hp.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sales         : Ini, Mas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Musro       : Lo, kok gak nyala?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sales      : O, ini belum ada nomor kartunya, Mas. Mas harus beli kartunya dulu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Musro  : Ya udah, saya beli kartunya. Kasih nomor cantik ya. (idih, udik kok ngerti nomor cantik?-red)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah itu pulanglah si Musro ke kampungnya, tapi dia heran kok gak bisa dipake tuh hp, maka besoknya ia datangi lagi sales tokonya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Musro        : Kamu ini gimana, kok hp ini gak bisa dipake di kampung saya?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sales           : O, itu karena di kampung Mas belum ada sinyal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Musro       : La, situ kok nggak bilang kemarin. Ya udah saya beli sinyalnya sekalian, jualan kok sendiri-sendiri gitu. (mbs)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-4932988761324034272?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/4932988761324034272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=4932988761324034272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/4932988761324034272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/4932988761324034272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/02/sinyal-handphone-joke-3.html' title='Sinyal Handphone (Joke-3)'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SG3I2vIoOoI/AAAAAAAAABI/jXn13JRZ7Hw/s72-c/sinyal+hp..bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-6315092359905662109</id><published>2008-02-18T01:40:00.000-08:00</published><updated>2008-02-18T01:41:18.901-08:00</updated><title type='text'>Gagap Teknologi (Joke-2)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Gagap Teknologi&lt;br /&gt;Senin, 28 Januari 2008 - 19:19 wib&lt;br /&gt;Suatu hari, terdapat seorang pelajar SMA di Bojonegoro bernama Cuplis datang ke warnet. Dia disuruh oleh gurunya membuka website Depdiknas Surabaya.Sesampainya di warnet, Cuplis langsung duduk di depan salah satu komputer dengan rasa ingin tahunya yang tinggi.Tak lama kemudian, setelah bosan melihat monitor dengan screensaver logo Windows yang besar bolak balik, dia memanggil operator yang tengah sibuk membantu pelanggan lain."Mbak, saya minta tolong dibukakan website Depdiknas Surabaya," tutur Cuplis."Alamatnya di mana, mas?" tanya si operator.Si Cuplis tidak tahu. Lantas kembali ke sekolah untuk menanyakan ke gurunya.Tak lama kemudian dia balik ke warnet lagi."Sudah tahu alamatnya, mas?" tanya si operator."Sudah, mbak!" jawab Cuplis dengan semangat."Di mana?""Di Jl. Gentengkali Raya, Surabaya, mbak."hick!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-6315092359905662109?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/6315092359905662109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=6315092359905662109' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6315092359905662109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/6315092359905662109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/02/gagap-teknologi-joke-2.html' title='Gagap Teknologi (Joke-2)'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-5900043188942095066</id><published>2008-02-18T01:37:00.000-08:00</published><updated>2008-07-04T00:41:10.774-07:00</updated><title type='text'>Bertemu Tuhan (joke-1)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bertemu Tuhan&lt;br /&gt;Minggu, 17 Februari 2008 - 14:09 wib&lt;br /&gt;Muhammad Chandrataruna - Okezone&lt;br /&gt;Dua orang kosmonot Uni Soviet, Yuri Gagarin dan Gherman Titov, berhasil keluar dari pesawat sputnik dan berjalan-jalan di luar angkasa. Mereka adalah manusia-manusia pertama yang berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Saat itu adalah puncak era perang dingin dan ideologi atheis komunis masih mencengkeram erat di negeri beruang merah ini.Suatu ha&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SG3TZ5z7NZI/AAAAAAAAABU/7YzPyxqA9cg/s1600-h/bertemu+tuhan.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 170px; height: 132px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SG3TZ5z7NZI/AAAAAAAAABU/7YzPyxqA9cg/s320/bertemu+tuhan.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219059985161074066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ri sekembalinya di bumi, kedua kosmonot ini mengadakan jumpa pers dengan masyarakat di Eropa Barat, khususnya kaum cendekiawan. Dengan pongahnya Yuri Gagarin mengatakan, "Saya sudah pergi ke luar angkasa dan berjalan-jalan di sana, tetapi saya tidak melihat Tuhan."Seorang mahasiswa yang religius dan berpikiran kritis kemudian bertanya, "Kamerad, apakah ketika Anda berjalan-jalan di luar angkasa, Anda memakai helm dan tabung oksigen?" "Ya, tentu saja. Apabila tidak, saya tidak akan bisa bernapas di sana," jawab kosmonot. "Ya, pantas. Coba saja bila Anda berjalan di luar angkasa tanpa helm dan tabung oksigen, seketika Anda akan bertemu Tuhan!" ujar mahasiswa itu ketus. (mbs)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-5900043188942095066?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/5900043188942095066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=5900043188942095066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5900043188942095066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5900043188942095066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/02/bertemu-tuhan-joke-1.html' title='Bertemu Tuhan (joke-1)'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SG3TZ5z7NZI/AAAAAAAAABU/7YzPyxqA9cg/s72-c/bertemu+tuhan.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-5666754100085528982</id><published>2008-02-01T00:58:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T01:05:05.165-08:00</updated><title type='text'>Poligami Menurut Muhammad Syahrur</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pendahuluan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Poligami akhir-akhir ini menjadi isu sensitif terutama bagi (di) kalangan perempuan. Jika di-polling mungkin sebagaian besar perempuan menolak poligami, tetapi kita tidak boleh menutup mata bahwa hal tersebut diperaktekkan oleh sebagian orang (untuk tidak mengatakan banyak) di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Bahkan, di Betawi ada tradisi Lurah ‘harus’ memiliki isteri lebih dari satu jika ingin memiliki wibawa yang tinggi, atau sebagian kyai juga mempraktekkan hal tersebut dengan beberapa macam alasan, baik yang ‘naqli’ maupun ‘aqli’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pada penghujung tahun 2007 lalu dikejutkan dengan seseorang yang bernama M. Insa yang  mengajukan peninjauan ulang terhadap UU perkawinan tahun 1974. Poligami bagi Fatayat NU dianggap sebagai pintu masuk menuju kekerasan terhadap perempuan dalam keluarga dan poligami adalah konsep laki-laki untuk memenangkan egonya. Maka dengan keras Poligami ditentang dan demonstrasi anti-poligami sering digelar. Tetapi lantas apakah dengan penolakan keras saja bisa menyelesaikan masalah sosial, sebab motif praktek poligami sangatlah variatif, dan bukan semata-mata egoisme laki-laki untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan. Bisa jadi bagi sebagaian orang yang memperaktekkannya, poligami adalah ‘jalan’ atau ‘cara’ untuk melakukan kesalehan sosial atau mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan dari lembah kemiskinan, dan ini tentunya dengan prasyarat-prasyarat yang sangat berat. Jika demikian, apakah lantas tetap dihukumi ‘haram mutlaq’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertitik tolak dari perdebatan itulah, Muhammad Syahrur ingin memberikan alternatif diskursif yang mungkin dapat menjembatani perdebatan ‘ekstrem’ antara yang mengharamkan dan yang menghalalkan. Tulisan ini bukan sama sekali Penulis maksudkan untuk membela pihak manapun tetapi hanya untuk ikut memberikan sudut pandang yang lain dengan pertimbangan-pertimbangan dan tafsir-tafsir yang lain pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Biografi Singkat &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Syahrur bin Da’ib lahir 11 April 1938 di Damaskus Syiria. Pendidikan dasar dijalaninya di daerah kelahirannya yaitu Damaskus, tepatnya di Madrasah Abdur Rahman al-Kawakibi. Pada tahun 1957, ia memperoleh Ijazah Tsanawiyah, lalu Maret 1958 dengan beasiswa dari pemerintah Syiria ia pergi ke Uni Soviet untuk belajar Teknik Sipil di Moskow. Pada Tahun 1964 ia menyelesaikan diplomanya dan kembali ke Syiria untuk mengabdi di Universitas Damaskus tahun 1965. Lalu, pada tahun 1967 ia melakukan riset di Imperial College Inggris, namun tidak lama sebab ada konflik diplomatik antara Syiria dengan Israel dan Universitas Damaskus mengirimnya ke Irlandia untuk mengambil program Magister dan Doktoral di bidang Teknik Sipil konsentrasi Mekanika Tanah dan Dasar Bumi di Universitas Nasional Irlandia hingga selesai Doktoral tahun 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus Doktoral ia pun kembali ke almamaternya dan diangkat menjadi dosen sekaligus dekan di Fakultas Teknik Sipil hingga sekarang. Selain mendalami Teknik Sipil ia juga mendalami ilmu Falsafah, Fiqh, Lughoh, dan ilmu Linguistik. Selain menguasai bahasa Syiria, ia juga menguasai bahasa Rusia, Arab, dan Inggris. Banyak sekali karya-karyanya, selain tentang teknik ia pun banayk menulis tentang isu-isu keislaman kontemporer, seperti; al-Kitab wa al-Qur’an; Qira’ah Muashirah (yang paling kontroversial); Dirasat Islamiyah Muashirah fi Daulah wa al-Mujtama’; al-Islam manzumat al-Qiyam; dan Masyru’ al-Mitsaq al-amal al-Islami.&lt;br /&gt;Yang berbeda dengan para pemikir Arab sezamannya yang mayoritas menggunakan pendekatan kritik nash atau hermeneutika, Syahrur menggunakan pendekatan teori batas (nadlariyat al-hudud) dalam setiap kajiannya terutama dalam al-kitab wa al-Qur’an; Qira’ah Muashirah, begitu juga dalam membahas poligami secara khusus di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Poligami Menurut Muhammad Syahrur&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Persoalan poligami lebih khusus merupakan persoalan perempuan karena di dalamnya menyangkut hak-hak perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki dalam sebuah perjanjian perkawinan. Sehingga tidak heran, jika kemudian para islamisis Barat memandang bahwa adanya justifikasi terhadap praktek poligami dalam Islam, membuktikan bahwa Islam sangat mengabaikan konsep demokrasi dan hak asasi manusia dalam kehidupan rumah tangga. Poligami yang diatur oleh Islam menurut mereka adalah sebentuk diskriminasi dan marginalisasi terhadap perempuan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan Poligami merupakan persoalan penting dihadapi perempuan dan termasuk persoalan Islam sendiri di hadapan dunia secara umum. Karena ia sangat berkaitan dengan hak asasi yang saat ini sedang marak dibicarakan. Oleh karena itu agar konsep yang dimiliki Islam tentang poligami ini dapat disesuaikan dengan gerak sejarah, maka yang harus pertama kali dipahami menurut Syahrur adalah bahwa ayat-ayat yang berbicara tentang poligami yang ada dalam umm al-Kitab adalah ayat-ayat hududiyah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dalam artian, ayat-ayat tentang poligami tersebut adalah batasan-batasan yang ditentukan Allah agar manusia dapat menetapkan hukum-hukum seputar poligami sesuai gerak masa tanpa harus melampui batasan yang telah ditentukan Allah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ayat yang dicatat Syahrur sebagai ayat hududiyah tentang poligami adalah surat an-Nisa’ ayat 3 yaitu :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة أو ما ملكت أيمانكم ذلك أدنى ألا تعولوا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat tersebut Syahrur menganalisa dua kata kunci yaitu kata (قسط) dan kata (عدل). Kata qasatha dalam bahasa Arab menurut Syahrur mengandung dua makna yang saling bertolak belakang. Pertama bermakna al-adlu wa al-musa’adah (berlaku adil dan memberi pertolongan) seperti dalam Q.S. al-Maidah (5): 42. Kedua bermakna az-zulmu wa al-jûr (berbuat aniaya dan berbuat tidak adil) sebagaimana disebut dalam surat al-Jin (72): 14. Kata ‘adala juga memiliki dua makna yang saling bertentangan, makna yang pertama adalah berbuat lurus (istiwâ’) dan kedua berbuat menyimpang (a’wajaj). Dan dalam membedakan kedua kata qasatha dan ‘adala ini, Syahrur menjelaskan bahwa kata qasatha berarti perbuatan kepada satu pihak, sedangkan ‘adala bermakna perbuatan kepada dua pihak yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penjelasannya, Syahrur menerangkan ayat ke tiga surat an-Nisa’ tersebut di-athaf-kan kepada ayat ke dua surat an-Nisa’ yang berbicara tentang hak-hak anak yatim yang bagi Syahrur merupakan latar belakang bagi ayat ke tiganya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Ayat ke dua surat an-Nisa’ tersebut berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وءاتوا اليتامى أموالهم ولا تتبدلوا الخبيث بالطيب ولا تأكلوا أموالهم إلى أموالكم إنه كان حوبا كبيرا &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami anak yatim yang dimaksud dalam ayat tersebut dijelaskan Syahrur sebagai anak yang ditinggal mati oleh ayahnya serta belum mencapai usia dewasa. Dengan demikian yang menanggung anak-anak yatim tersebut adalah ibunya –janda-janda yang usianya masih relatif muda.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persoalan poligami ini, secara prinsipil Syahrur membaginya kedalam dua bagian, antara lain yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Batasan Kuantitatif&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penjelasannya adalah bahwa ayat ke tiga surat an-Nisa’ secara umum berbicara tentang sebuah aturan perkawinan yang mengatur seorang laki-laki yang beristri lebih dari satu istri. Aturan-aturan tersebut terapresiasikan dalam bentuk jumlah istri yang dibatasi minimal satu dan maksimal empat istri. Kerena bagi Syahrur seorang laki-laki tidak mungkin menikahi dirinya sendiri atau menikahi separuh atau seperempat perempuan. Begitu juga laki-laki tidak diperbolehkan menikahi perempuan lebih dari empat, karena akan melanggar batas yang ditentukan oleh Allah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Sedangkan ruang gerak yang bisa diambil di antara dua batas ini adalah menikahi dua orang sampai empat orang perempuan. Dan kemungkinan jumlah yang diberlakukan dan ditetapkan menyesuaikan ruang gerak sejarah, tanpa melampau batas yang sudah ditentukan. Adapun suatu saat poligami perlu untuk dilarang, maka berarti pelarangan itu masih berada dalam batas yang ditetapkan Allah yaitu satu perempuan. Batasan-batasan yang mengatur jumlah perempuan yang dikawini inilah yang disebut batasan kuantitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Batasan Kualitatif&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Batasan kualitatif yang dimaksudkan Syahrur adalah apakah perempuan yang dinikahi itu seorang gadis ataukah janda. Dan jika ia janda karena ditinggal mati suaminya (armalah) ataukah janda karena diceraikan suaminya (muthallaqah). Batasan kualitatif seperti itu menurut Syahrur tersirat dalam bentuk ayat ke tiga surat an-Nisa’ yang berupa keterkaitan kalimat syarat (وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى) dengan bentuk jawabnya (فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع). Dalam ayat tersebut, disebutkan dua hal yang berbeda, yaitu berbuat adil terhadap anak yatim dan berpoligami. Namun keterkaitan dua hal yang berbeda tersebut menjadi sebuah prasyarat agar ayat ini bisa dipahami. Ayat ini juga tidak berdiri sendiri, melainkan bersambung dengan ayat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jawab syarat tersebut tidak disebutkan jumlah minimalnya yaitu satu orang perempuan, melainkan langsung dimulai dengan kata matsna (dua-dua). Logika ayat tersebut menurut Syahrur mengatakan bahwa istri pertama tidak terkena batasan kualitatif, dalam artian ia boleh gadis, janda karena ditinggal mati suaminya (armalah), ataupun karena cerai (muthallaqah). Dengan begitu, apabila jawab syarat ini dihubungkan dengan syaratnya yaitu berlaku adil (iqsât) terhadap anak yatim, maka dapat disimpulkan bahwa jawab syarat dalam ayat tersebut berbicara tentang ibu-ibu dari anak yatim yang sudah barang tentu adalah perempuan-perempuan janda karena ditinggal mati oleh suaminya (armalah) dan menanggung anak-anak yatim. Jadi bukanlah perempuan janda karena dicerai suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, batasan kuantitatif menikahi perempuan, boleh dari satu sampai empat orang. Sedangkan batasan kualitatifnya ditetapkan hanya bagi istri ke dua dan seterusnya yaitu haruslah seorang janda yang ditinggal mati suaminya dan ia mempunyai anak-anak yatim dalam tanggungannya. Jadi perempuan yang boleh dipoligami menurut Syahrur adalah perempuan dengan keadaan seperti di atas. Seorang suami dapat menjadikan mereka istri beserta mengambil anak-anak mereka sebagai anak-anaknya sendiri dan tidak diperbolehkan menikahi janda tersebut tanpa mengambil anak-anaknya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menikahi janda-janda yang memiliki anak-anak yatim, berarti seorang suami menyatukan pengasuhan dan pendidikan anak-anak yatim tersebut dengan pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya sendiri. Maka dari itu suami tersebut menikahi seperti disinggung dalam ayat ini :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وابتلوا اليتامى حتى إذا بلغوا النكاح فإن ءانستم منهم رشدا فادفعوا إليهم أموالهم ولا تأكلوها إسرافا وبدارا أن يكبروا ومن كان غنيا فليستعفف ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف فإذا دفعتم إليهم أموالهم فأشهدوا عليهم وكفى بالله حسيبا (النساء 6:4)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika misalnya seorang suami menikahi tiga orang janda yang masing-masing janda itu membawa anak-anak yatim, maka tentunya si suami akan memiliki banyak keluarga dan tentunya memiliki keluarga dan tentunya mempunyai tanggungan finansial yang cukup besar. Dalam keadaan seperti ini, kalimat (فإن خفتم ألا تعدلو) ditafsirkan Syarur dengan perlakuan adil antara anak-anaknya sendiri dengan perlakuan adil dengan anak-anak yatim yang ada dalam tanggungannya (anak-anak tirinya). Dari sini bisa dilihat bagaimana Syahrur menafsirkan kata qasatha yang berarti perbuatan terhadap satu pihak dan kata ‘adala yang berarti perbuatan kepada dua pihak yang berbeda. Karena dalam ayat tersebut yang digunakan adalah kata ‘adala, maka berarti perlakuan adil yang dimaksudkan ditujukan kepada anak-anaknya sendiri dengan perlakuan anak-anak yatim yang berada dalam tanggungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dalam menafsirkan kata wahidah, Syahrur mengartikan kata tersebut dengan istri kedua bukan istri yang pertama. Yang dimaksudkan adalah bahwa melihat konteks ayat tersebut yang berbicara tentang poligami, maka khitab yang tersebut adalah orang yang sudah beristri. Oleh karena itu yang dimaksud dengan kata wahidah disitu adalah istri kedua (mastnâ) yang harus janda (armalah). Dengan demikian ia tetap memiliki dua istri, istri pertama yang tak terkena batasan kualitatif dan istri kedua yang dalam ayat tersebut diistilahkan dengan wahidah yaitu janda (armalah) beranak yatim. Jadi batasan kualitatif minimal dalam ayat tersebut adalah menikahi satu orang janda sebagai istri kedua dan batas kualitatif maksimal adalah menikahi janda yang ketiga sebagai istri keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran seperti itu dapat diterjemahkan dengan: “jika seseorang mampu untuk melakukan poligami dari segi finansial, maka Allah meyemangatinya untuk mengambil minimal satu orang janda sebagai istri kedua beserta mengambil pula anak-anak yatimnya. Pemaknaan seperti itu menurut Syahrur dikuatkan oleh kalimat lanjutannya yaitu (زلك أنى ألا تمو لو ا). Kata نمو لو ا berasal dari kata ‘aul yang bermakna kasrah ‘al-‘iyal wa al-jur’ (banyak keluarga dan berlaku tidak adil). Maka ketika seorang suami memiliki banyak keluarga tentunya ia menanggung seluruh kebutuhan finansial keluarganya dan bila tidak mampu memenuhi kebutuhan ini, akhirnya ia bisa saja berbuat tidak adil terhadap anak-anaknya. Perbuatan yang seperti inilah yang dilarang oleh ketiga surat an-Nisa’tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh pembahasan di atas, kiranya surat an-Nisa’ ayat 3 tersebut dalam versi Syahrur dapat diterjemahkan dengan: “Kalau seandainya kamu khawatir untuk tidak bisa berbuat adil antara anak-anakmu dengan anak-anak yatim (dari istri-istri jandamu) maka jangan kamu kawini mereka. (Tapi kalau kamu bisa berbuat adil dengan memelihara anak-anak yatim mereka) maka kawinilah para janda atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu akan lebih menjaga dari perbuatan aniaya (karena tidak bisa memelihara anak yatim)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Wallahu’alam bisshawab-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Syafiq Hasyim, Hal-hal yang tak Terpikirkan tentang Isu-isu Keperempuan dalam Islam. Cet. I (Bandung: Mizan, 2000), h.159&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lihat, al-Kitab., h. 579&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Bandingkan dengan Asghar Ali Enginer, Hak-hak Perempuan dalam Islam, diterjemahkan oleh Farid Wahidi dan Cici Farka as-Segaf, cet. I (Yogyakarta: LSPPS dan CUSO, 1994), h. 30&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Lihat Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqh al-Islami, h. 302&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lihat al-Kitâb, h. 598&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5617436028736133425#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; lihat Nahwa Ushul Jadidah lil al-Islami, h. 303&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-5666754100085528982?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/5666754100085528982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=5666754100085528982' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5666754100085528982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5666754100085528982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/02/poligami-menurut-muhammad-syahrur.html' title='Poligami Menurut Muhammad Syahrur'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-7963226486783118532</id><published>2008-02-01T00:47:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T00:56:46.548-08:00</updated><title type='text'>Dua Pedagang Permen</title><content type='html'>Kisah ini pernah cukup populer tetapi saya sendiri tidak ingat lagi di mana untuk pertama kalinya kisah itu  saya baca. Konon, di suatu jalan di depan sekolahan terdapat dua toko permen. Keduanya menjual jenis-jenis permen yang persis sama. Tetapi toko yang satu selalu pernuh dengan anak-anak yang berebutan membeli permen. Toko lainnya hampir tidak ada pembelinya. Para calon salesmen atau SPG disuruh mengamati mengalami sampai terjadi gejala aneh seperti itu. Sebagai hasil pengamatan ternyata pemilik toko yang ramai itu sangat pintar aritmatika dalam hal tambah menambah.  Sedangkan pemilik toko yang lainnya juga sangat pintar aritmatika tetapi dalam hal kurang mengurang.   Pemilik toko permen yang ramai itu selalu mulai menimbang dalam dengan jumputan kecil. Kemudian ia terus menambahkan permennya sehingga dacingnya seimbang. Setelah seimbangpun ia masih menambahkan pula satu dua permen sehingga dacingnya berat ke sebelah permen daripada ke sebelah batu timbangan. Sebaliknya pemilik toko yang lain selalu mulai dengan sejumputan besar permen. Kemudian ia mengurangi permen itu sedikit demi sedikit sampai akhirnya dacingnya seimbang. Selain daripada itu penjual permen yang murah hati itu juga murah senyum, senang bercanda, sehingga langsung disukai anak-anak. Lawannya seorang yang kikir senyum, bermata curiga dan bermulut kerang. Ternyata pemilik toko yang satu memahami benar psikologi anak kecil. Anak-anak itu gembira setiap kali menyaksikan permennya ditambah dan ditambah. Bahkan sudah setimbangpun masih diberi kelebihan pula. Sedangkan lawannya kurang memahami psikologi anak kecil. Mereka melihat permen pada awalnya begitu banyak. Tetapi setiap kali dikurangi hati mereka menjadi ciut dan semakin ciut. Walaupun akhirnya dacingnya setimbang tetapi kesan setiap kali permennya dikurangi itu terus membekas di hati anak-anak. Sama sekali tidak ada kegembiraan berbelanja di sana. Sebaliknya di toko yang lain itu selain sudah seimbang masih diberi tambahan bonus lagi beberapa butir permen. Bagi saya filosofi pedagang permen yang laris itu bukan sekedar masalah memahami psikologi anak saja. Ia mengajarkan kepada saya bahwa nilai kemurahan hati lebih baik dan sekaligus lebih menguntungkan dibandingkan dengan nilai keadilan yang normatif. Kapanpun dan di manapun orang lebih menyukai dan menghargai kemurahan hati dibandingkan dengan keadilan. Hal ini juga berlaku dalam manajemen. Perusahaan yang murah hati dalam 'social benefits' ternyata lebih dicintai oleh para karyawannya. Mereka mengalami turn over karyawan yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang membayar pas menurut syarat-syarat UMR. Bahkan seandainya upah nominal resmi mungkin lebih kecil sedikit dengan perusahaan-perusahaan lainnya mereka memilih untuk tidak pindah kerja. Ada kelompok perusahaan besar yang memberikan tunjangan kendaraan kepada para karyawannya selepas mereka bekerja sekian (misalnya tiga) tahun. Entah itu berupa mobil, sepeda motor atau sekalipun hanya sekedar sebuah sepeda bagi para karyawannya (tukang sapu, janitor, OB dsb) tetapi ada suatu kepastian. Kepastian ini yang sangat dihargai oleh para karyawannya. Kemudian setelah mereka bekerja sekian (misalnya lima atau enam) tahun pasti diberikan tunjangan perumahan. Sekalipun itu merupakan kredit KPR atau RSS atau hanya dalam bentuk kaveling tanah 15 M2 sekalipun. Yang menarik karyawan adalah kepastian mendapat tunjangan fisik perumahan itu sendiri. Demikian pula tentunya dengan kepastian fisik lainnya seperti saham kosong, kepemimpinan pada anak perusahaan, dana pensiun, dana ziarah dsb. Kisah sederhana dua pedagang permen itu juga memberikan inspirasi tentang perang gerilya dalam pemasaran produk. Dalam kasus seperti yang pernah saya alami di mana kami harus bersaing dengan produk impor juga demikian. Kita mengalami "absolut disadvantages" atau bahasa sederhananya situasi kalah total. Situasi mentimun lawan durian di pasar. Sama seperti gerilyawan melawan pasukan konvensional, jadi harus pintar-pintar mencari akal bulus dan harus menang cerdik. Dalam hal ini analogi dengan pedagang permen tadi diibaratkan posisi kuat pesaing itu sebagai batu timbangan. Sedangkan kemampuan kreativitas sendiri sebagai jumputan permen. Kemenangan hanya ditentukan oleh butir permen terakhir yang membuat sisi permen lebih berat dibandingkan dengan sisi batu timbangan.  Karena perusahaan kecil tidak mampu memberikan service 'serba wah' (batu besar) kepada para pelanggan maka strateginya harus memperbanyak batu kerikil (atau permen) sehingga piring dacingnya "njomplang". Dalam "corporate social responsibility" kemenangan ditentukan oleh service kecil terakhir yang diberikan kepada para pelanggan.  Entah cuma berupa perbaikan atap sekolah SD di dekat pabrik, memperbaiki jembatan, mengaspal jalan, menambah lampu jalan, dsb. Intinya sebenarnya sederhana saja. Berikan kepada konsumen service berupa apa yang mereka dambakan dan bukannya apapun yang kita ingin berikan kepada mereka. Dalam pergaulan sosial juga demikian. Madu yang kita tawarkan bila tidak diinginkan akan dianggap tidak berbeda dengan racun. Sebaliknya bila yang diinginkan hanya sekedar tempe bacem dan sayur asem, maka steak yang kita tawarkan dengan gratis juga akan kurang diapresiasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-7963226486783118532?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/7963226486783118532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=7963226486783118532' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/7963226486783118532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/7963226486783118532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/02/dua-pedagang-permen.html' title='Dua Pedagang Permen'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-5228564419640458130</id><published>2008-02-01T00:38:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T00:45:24.454-08:00</updated><title type='text'>Pilih Gadis Matematis atau Logis?</title><content type='html'>Ada dua orang gadis, salah satu dari mereka cara berpikirnya MATEMATIS (M) dan yang lainnya cara berpikirnya mengandalkan LOGIKA (L) . Mereka berdua berjalan pulang melewati jalan yang gelap, dan jarak rumah mereka masih agak jauh. Setelah beberapa lama mereka berjalan....M : Apakah kamu juga memperhatikan, ada seorang pria yang sedang berjalan mengikuti kita kira2 sejak tigapuluh delapan setengah menit yang lalu? Saya khawatir dia bermaksud jelek.L : Itu hal yang Logis. Dia ingin memperkosa kita.M : Oh tidak, dengan kecepatan berjalan kita seperti ini, dalam waktu 15 menit dia akan berhasil menangkap kita. Apa yang harus kita lakukan.L : Hanya ada 1 cara logis yg harus kita lakukan, yaitu berjalan lebih cepat.M : Itu tidak banyak membantu, gimana nich.....L : Tentu saja itu tidak membantu, Logikanya kalau kita berjalan lebih cepat dia juga akan mempercepat jalannya.M : Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dengan kecepatan kita seperti ini dia akan berhasil menangkap kita dalam waktu dua setengah menit...L : Hanya ada satu langkah Logis yang harus kita lakukan.. Kamu lewat jalan yang ke kiri dan aku lewat jalan yang kekanan. sehingga dia tidak bisa mengikuti kita berdua dan hanya salah satu yang diikuti olehnya.Setelah kedua gadis itu berpisah, ternyata Pria tadi mengikuti langkah si gadis yang menggunakan logika (L ).Gadis matematis ( M) tiba di rumah lebih dulu dan dia khawatir akan keselamatan sahabatnya. Tapi, tidak berapa lama kemudian, Gadis Logika (L ) datang.M : Oh terima kasih Tuhan.. Kamu tiba dengan selamat. Eh, gimana pengalamanmu diikuti oleh Pria tadi?L : Setelah kita berpisah dia mengikuti aku terus.M : Ya.. ya.. Tetapi apa yang terjadi kemudian dengan kamu?L : Sesuai dengan logika saya langsung lari sekuat tenaga dan Pria itupun juga lari sekuat tenaga mengejar saya.M : Dan... dan..L : Sesuai dengan logika dia berhasil mendekati saya di tempat yang gelap...M : Lalu.. Apa yang kamu lakukan?L : Hanya ada satu hal logis yang dapat saya lakukan, yaitu saya mengangkat rok saya..M : Oh... Lalu apa yang dilakukan pria tadi?L : Sesuai dengan logika... Dia menurunkan celananya...M : Oh tidak... Lalu apa yang terjadi kemudian?L : Hal yang logis bukan, kalau gadis yang mengangkat roknya larinya lebih cepat dari pada lelaki yang berlari sambil memelorotkan celananya... So akhirnya aku bisa lolos dari pria itu...&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;diambil dari milist alumniciputat &lt;/em&gt;diposting oleh Yulis ST)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-5228564419640458130?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/5228564419640458130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=5228564419640458130' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5228564419640458130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5228564419640458130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/02/pilih-gadis-matematis-atau-logis.html' title='Pilih Gadis Matematis atau Logis?'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-2508778845285672260</id><published>2008-01-30T01:01:00.001-08:00</published><updated>2008-01-30T01:35:23.169-08:00</updated><title type='text'>Pak Harto, Muharram, dan Hijrah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sebelumnya, saya mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya seraya memanjatkan do'a atas meninggalnya Pak Harto, Minggu 27 Januari 2008, meskipun mungkin masih banyak kontroversi seputar perjalanan hidup beliau, baik sebagai pribadi, seorang bapak, seorang suami, seorang presiden, seorang tentara, atau dalam kapasitas apapun yang (kebetulan) menempel dalam diri beliau. saya tidak ingin masuk pusaran konflik -bukan berarti tidak mengerti- seputar sepak terjang beliau ketikam wafat, tetapi saya ingin mencoba sedikit arif dalam memaknai seseorang, apalagi yang bersifat pribadi, sebab "dalamnya lautan dapat diselami tetapi dalamnya hati siapa yang dapat menjangkauinya?". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya kurang suka dengan "empat mata"-nya Cak 'Sufi-Filosof' Tukul  Arwana, tetapi saya sangat belajar tentang filsafat hidupnya yang sangat sofistacated yang menekankan orang untuk selalu "positive thinking" menyikapi segala sesuatu -memang rasanya sangat bertolak belakang dengan paradigma yang dibangun di dunia 'intelejen'- tetapi dengan berfikir positif dalam segala hal akan membuat orang jauh dari berburuk sangka, iri-dengki, hasut, dan penyakit-penyakit hati lainnya yang sangat 'mengerikan' dalam menjerumuskan manusia ke dalam dosa-dosa (lih. ihya' ulumuddin karya monumental Al-Ghazali).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka, saya memilih memaknai Pak Harto secara positif-positif aja. maksudku, beruntunglah Pak Harto yang meninggal pas tanggal 18 Muharram, orang jawa bilang 'wulan syuro', sebab itulah bulan dimana Nabi saw. menorehkan sejarah enlightment, tonggak kebangkitan kesadaran manusia suci untuk melakukan hijrah secara total (politik, sosial, dan spiritual) untuk membangunkan 'tidur'nya kesadaran umat manusia di seluruh penjuru alam semesta ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mungkin Allah swt memanggil Pak Harto di bulan ini untuk 'membangunkan' kesadaran Bangsa Indonesia agar segera hijrah kepada 'keadilan', 'kebenaran', 'persamaan dihadapan hukum', dsb.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bangsa Indonesia (terutama 'pemangku amanah kepemimpinan', bukan 'pemerintah', sebab kecenderungannya 'memerintah' bukan 'melayani') harus sadara bahwa totaliarianisme itu tidak baik, bahwa sebagai seorang pemimpin harus mendahulukan kepentingan rakyat banyak dan mengakhhirkan kepentingan keluarga, pemerataan ekonomi bukan monopoli. Sadar dan bangkit untuk memberantas korupsi, korupsi hati, korupsi jiwa, korupsi spiritual, korupsi material, korupsi kesadaran. Sebab jika hati kita sudah membeku, kebenaran tidak akan mungkin menyelinap masuk ke dalam sanubari kita yang terdalam, yang suci, rasa kemanusiaan akan menjelma menjadi binatang buas yang siap menerkan sesama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saatnya kita belajar dari 'masa lalu' di sana, bukan meninggalkannya begitu saja atau apalagi mengidealisasikannya di 'masa sekarang' di sini, seperti HTI yang mengidealkan 'Khilafah' sebagai sistem negara yang adiluhung di ruang khayalnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mungkin sekian dulu, commeny-nya dong...suwun-suwun    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-2508778845285672260?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/2508778845285672260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=2508778845285672260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2508778845285672260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/2508778845285672260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/01/pak-harto-muharram-dan-hijrah.html' title='Pak Harto, Muharram, dan Hijrah'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-3759542016221838182</id><published>2008-01-18T21:18:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T21:27:14.909-08:00</updated><title type='text'>Resolusi 1 Muharram 1429 H</title><content type='html'>Tanggal 1 Muharram diperingati umat Islam sebagai Tahun Baru. Tapi 1 Muharram tidak hanya sebagai pergantian tahun, melainkan menjadi pertanda atas peristiwa besar yang paling menentukan arah sejarah peradaban Islam: hijrahnya Nabi Muhammad dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa hijrah memiliki makna yang signifikan bagi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu sarat dengan pertanda bagi lahirnya etos untuk membumikan pesan-pesan spiritualitas menuju pembebasan kemanusiaan. Karenanya ketika Nabi Muhammad tidak mendapatkan lahan subur pada periode dakwahnya di Mekkah, ia membutuhkan ranah baru yang cukup subur untuk menyebar benih-benih pembebasan itu. Dengan demikian hijrah di dalam Islam dianggap sebagai simbol dari kelangsungan persemaian cita-cita profetik untuk mewujudkan pengakuan atas harkat kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah memiliki makna spiritual dan misi kemanusiaan sekaligus. Keduanya sering disebutkan dalam al-Qur'an secara beriringan. Secara sederhana makna spiritual dan misi kemanusiaannya adalah upaya untuk membangun peradaban yang lebih luhur demi membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan. Dalam konteks itulah Nabi Luth, Ibrahim, Musa dan lain sebagainya melakukan hijrah. Dengan demikian, hijrah mestinya dimaknai sebagai pertanda kebangkitan moralitas-spiritual umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam istilah Muhammad Iqbal, hijrah dalam pengertian sesungguhnya dapat dianggap sebagai suatu proses pembebasan untuk mengekspresikan universalitas Islam dari dominasi yang mungkin akan memasung lahirnya kreativitas peradaban Islam. Dalam pengertian itu hijrah tidak melulu berkonotasi migrasi fisik. Pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah upaya untuk mewujudkan komunitas etis-spiritual yang mengandung visi pembebasan dan ketundukan atas nilai-nilai etis-spiritual. Hijrah, dengan begitu dimaknai sebagai jalan keluar dari kondisi ketidakadilan sosial untuk pergi menuju "tanah yang dijanjikan", tanah yang subur untuk menyemai benih-benih kemanusiaan dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang dijanjikan dalam hijrah, secara normatif, tidak melulu merujuk pada sebuah tempat tertentu. Tapi sebuah kondisi di mana umat Islam mampu menemukan makna otonominya sebagai makhluk Tuhan yang merdeka dan mampu keluar dari cengkeraman otoriterianisme. Dalam pengertian itu hijrah mengandung pengertian yang sangat utopis, namun justru memberikan kelonggaran bagi umat Islam untuk terus memberikan makna baru dalam setiap ruang-waktu yang didiaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bentuk yang paling sederhana, hijrah dapat direalisasikan ke dalam bentuk aktivitas konkret pembebasan diri dan umat dari kondisi yang sarat dengan ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan yang dapat menjadi ancaman serius terhadap kelangsungan kemanusiaan. Proyek itu dapat diagendakan dalam berbagai kegiatan yang muaranya adalah pembebasan dari segala bentuk yang akan memasung kebebasan dan menciptakan kenestapaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga dibutuhkan rekayasa sosial yang sistematis diserta kerja sama dari berbagai kelompok sosial yang terintegrasi secara baik. Selain itu, dalam beberapa ayat al-Qur'an kata hijrah disebutkan secara berbarengan dengan jihad. Ini disebutkan antara lain dalam al-Baqarah (2): 218 dan al-Tawbah (9): 20. Kedekatan makna hijrah dan jihad yang disebutkan dalam kedua ayat tersebut adalah dalam hijrah dibutuhkan sebuah tekad baja dan kesungguhan hati untuk keluar dari kondisi yang tidak bebas. Tekad baja dan kesungguhan hati secara normatif dimaknai sebagai bentuk jihad. Jadi, dalam pengertian ini, tidak ada peristiwa hijrah tanpa jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di antara makna hijrah dan jihad terkandung semangat pengorbanan-harta, kalau perlu dengan nyawa- untuk pembangunan sebuah cita-cita luhur pembebasan manusia. Hal ini tercermin dalam perjalanan hijrah Nabi beserta sahabatnya, yang rela meninggalkan keluarga, kelompok, dan kekayaan untuk bergabung dengan komunitas yang lebih memberikan jaminan akan kelangsungan kebebasan kemanusiaan. Dengan demikian, gerakan pembebasan tersebut mestinya sepi dari pamrih yang bersifat keduniaan (ikhlas): hanya mengharap ridla Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merujuk pada peristiwa hijrah Nabi-dari Mekkah ke Madinah-tidaklah berlebihan jika ada statemen yang menyebutkan bahwa peristiwa tersebut mengandung konotasi politis. Hal ini setidaknya dapat digambarkan bahwa hijrah juga dapat dikonotasikan sebagai pencarian suaka ke suatu wilayah yang dapat menjanjikan keselamatan kini atau pun di masa yang akan datang. Para sufi lebih memaknai hijrah sebagai proses perpindahan batin dari gelap menuju terang, dari jalan eksoterisme menuju esoterisme. Dan, bagi para sufi, ranah itu sesungguhnya berada di hati. Singkatnya hijrah adalah jalan panjang untuk meniti pintu-pintu menuju Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi bangsa Indonesia, kiranya makna hijrah selalu relevan untuk dikontekstualisasikan, terutama dalam menghadapi kondisi keterpurukan. Pengalaman hijrah Muhammad mengajarkan betapa diperlukan kerelaan hati, keteguhan jiwa, kesabaran untuk menderita, dan konsistensi atas nilai-nilai luhur yang dipercayai dapat membawa bangsa ini ke gerbang masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi keterpurukan itu, daripada melulu menyalahkan alam yang mulai tidak bersahabat, atau menyalahkan kelompok tertentu, maka peristiwa hijrah dapat menginspirasi kita menemukan jalan keluar dari sekelumit problematika kebangsaan kini. Bangsa ini harus hijrah dari keserakahan yang menyebabkan beberapa individu terjebak pada praktik korupsi dan manipulasi. Hijrah dari arogansi kekuasaan yang menyebabkan para penguasa emoh terhadap kritik yang membangun. Hijrah dari eksklusivisme yang menyebabkan beberapa kelompok merasa dirinya yang paling benar. Hijrah dari tindakan ekploitasi alam hanya demi keuntungan ekonomi sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah yang dimaksud adalah sebuah upaya untuk menemukan kembali makna keindonesiaan (reinventing Indonesia) sebagaimana yang pernah dicita-citakan oleh the founding fathers. Singkatnya hijrah dari segala yang akan menyebabkan keterpurukan atas nilai-nilai kemanusiaan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rabu, 9 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Diambil dari tulisan  Lukman Hakim, Deputy Director PSIK Universitas Paramadina&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-3759542016221838182?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/3759542016221838182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=3759542016221838182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/3759542016221838182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/3759542016221838182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/01/resolusi-1-muharram-1429-h.html' title='Resolusi 1 Muharram 1429 H'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-8216697271545421298</id><published>2008-01-17T21:26:00.000-08:00</published><updated>2008-01-17T21:34:58.337-08:00</updated><title type='text'>Yuuk kita merenung sejenak...</title><content type='html'>TELAPAK TANGAN...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di setiap tangan tergurat garis&lt;br/&gt;Garis yang dikaitkan nasib&lt;br/&gt;Nasib yang ditentukan oleh Pencipta&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Telapak tangan...&lt;br/&gt;Berkulit kasar nan tebal&lt;br/&gt;Mengisyaratkan akan perannya yang berat&lt;br/&gt;Dia, tak pernah cemburu &lt;br/&gt;dengan kulit lain yang halus dan berbulu&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;subhanallah, coba seandainya kulit telapak teksturnya sama dengan yang lain?&lt;br/&gt;Pasti akan mudah terluka bukan!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lantas, sudah bersyukurkah kita?&lt;br/&gt;Sudahkah kita bersujud kepada-Nya?&lt;br/&gt;Mari kita tanya diri, hati, &lt;br/&gt;dan pikiran kita semua... &lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;BUMI KITA&lt;br/&gt;Pernahkah kita berfikir bahwa bumi ini bundar?&lt;br/&gt;Pernahkah juga berfikir bahwa bumi ini berputar?&lt;br/&gt;Tetapi kita koq tidak tergelincir yaaa, koq bisa sih?&lt;br/&gt;Karena bumi berputar kencang dan memiliki grafitasi &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bumi, banyak memberi manfaat bagi kehidupan kita&lt;br/&gt;Kita makan makanan yang berasal dari tumbuhan&lt;br/&gt;Meminum air dari sumber air di dalam perut bumi&lt;br/&gt; Tetapi kenapa koq ada kekeringan, banjir, gempa dll?&lt;br/&gt;Apakah itu pertanda bumi sudah tidak bersahabat lagi?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kenapa yaa? Karena kita sendiri yang suka semena-mena memperlakukan bumi kita demi kepentingan pribadi&lt;br/&gt;Hutan kita gunduli, buang sampah di selokan, di sembarang tempat, di sungai, di laut. Karang-karang kita rusak, semua ingin menggunakan kendaraan bermesin, cerobong pabrik mengepul terus, itulah sebabnya iklim tak menentu... bumi kita telah mengalami PEMANASAN GLOBAL !!!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;- Nalar Kreasindo  –&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-8216697271545421298?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/8216697271545421298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=8216697271545421298' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/8216697271545421298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/8216697271545421298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/01/yuuk-kita-merenung-sejenak.html' title='Yuuk kita merenung sejenak...'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5617436028736133425.post-5071090781916607814</id><published>2008-01-16T20:30:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T21:10:55.264-08:00</updated><title type='text'>Undangan Allah untuk memerdekakan manusia</title><content type='html'>Kenapa ketika kita datang dalam sebuah undangan acara malam isra’ mi’raj atau malam gema maulid nabi saw atau undangan pernikahan kita terasa tenang tanpa ragu sedikitpun dan percaya bahwa kita akan mendapatkan tempat duduk, makanan, kue, minuman dsb. sesampainya kita di tempat/lokasi undangan/walimah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu karena kita percaya kepada panitia yang mengundang kita, bahwa kita datang tidak perlu membawa apa-apa, lenggang saja sudah cukup, sebab sesampainya kita di tempat walimah tersebut, kita akan mendapatkan tempat duduk meskipun sekedar tikar, kita akan diberikan makanan, minuman, kue meskipun ala kadarnya, tetapi kita sudah percaya kepada panitia acara. Sekali lagi, karena kita percaya bahwa panitia akan menyediakan hal-hal tersebut tanpa kita minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, begitu juga dengan kita hidup di dunia ini. Kita hidup di dunia ini adalah undangan Allah swt, Tuhan semesta alam ini. Tanpa perkenan Allah untuk kita hadir di dunia ini niscaya kita tidak akan pernah merasakan kehidupan dunia ini. Tetapi, anehnya kenapa kita seringkali tidak percaya kepada yang mengundang kita untuk hidup di dunia ini? tidak percaya kepada Allah swt. yang mengundang kita hidup? Padahal Allah lah yang mengundang kita, bukan mau kita untuk hidup di dunia ini. Kenapa misalnya, kita seringkali was-was, khawatir, sedih, bingung, susah, gelisah, takut tidak bisa makan esok hari, takut dengan masa depan -yang masih diarahasiakan oleh Allah swt.- untuk menjalani hidup ini, padahal sekali lagi yang mengundang kita hidup di dunia ini adalah Beliau, Allah swt., bukan selainNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika dianalogikan dengan perumpamaan kita hadir dalam sebuah undangan tersebut diatas, maka seharusnya kita percaya pula kepada Allah yang mengundang kita untuk hidup di dunia ini, bukan begitu? Padahal kita seringkali mengaku beriman yang artinya percaya kepada Allah swt. Namun seringkali pula kita lupa bahwa kita hidup di dunia ini adalah bukan kehendak kita, tetapi kehendak Allah swt., atas undangan Allah swt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tujuan Allah mengundang kita ke dunia ini? Tidak lain adalah untuk memberikan derajat tinggi kepada kita, sebab dengan kita hidup sebagai manusia di muka bumi ini, berarti kita telah dijadikan kepercayaan Tuhan untuk mengemban amanat sebagai khalifah Allah swt. Itu adalah derajat mulia sebab Allah tidak memilih makhluknya yang lain, semisal Malaikat yang selalu sujud kepadaNya, atau Jin atau makhluk yang lain. Tetai kita, manusia sebagai khalifatullah fi al ardl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah untuk memerdekakan kita, yakni memerdekakan kita dari segala bentuk kegelapan, kekejian, kemusyrikan, kejahatan dsb. Memerdekakan kita dari segala ketergantungan dan hanya kepada Allah kita bergantung, merdeka dari kegelapan dunia rahim dan memberikan kita kenikmatan dalam melihat pemandangan dunia yang begitu indah nan menawan, memerdekakan kita dari kekafiran menuju ikatan kukuh dengan Dia Yang Maha atas segala maha, yakni Allah swt. Kita hidup di dunia ini adalah kehendaknya, maka tidak ada alasan untuk takut mengarungi bahtera kehidupan di dunia ini. Sebab Allah-lah yang menjamin hidup kita, yakinilah, yakinilah, yakinilah. Jika tidak,  maka ketidakyakinan itu akan menjadi hantu siang-malam dalam hidup kita. [Tulisan ini diinspirasi dari kalam hikmah Lukamanul Hakim-Sufiolog Ciganjur] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- wallahu a’lam bisshawab -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Muhib-Mu]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5617436028736133425-5071090781916607814?l=nalarbrilliant-nalar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/feeds/5071090781916607814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5617436028736133425&amp;postID=5071090781916607814' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5071090781916607814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5617436028736133425/posts/default/5071090781916607814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nalarbrilliant-nalar.blogspot.com/2008/01/undangan-allah-untuk-memerdekakan.html' title='Undangan Allah untuk memerdekakan manusia'/><author><name>nalarbrilliant</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12905731498578319990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_-95Nd2UK2FU/SPxQcQtfKiI/AAAAAAAAABw/h1mYRmRWcg8/S220/ME_DSC_0427.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
